Selasa, 22 November 2011 - 13:51:18 WIBKehidupan masyarakat Sumbar yang perlu mendapat perhatian Part II
Kategori: Pemikiran - Dibaca: 34 kali

f) Ketahanan IMTAQ dan budaya belum optimal
Hal ini menjadi faktor yang sangat penting karena akan menentukan identitas
serta karakteristik warga Sumatera Barat. Tumbuhnya tempat-tempat kegiatan
maksiat perlu diantisipasi secara baik dan konsisten dengan mencarikan solusi
untuk pekerjaan layak bagi PSK supaya mereka dapat hidup sebagaimana mestinya
sesusai dengan ajaran agama. Hal ini sangat mungkin karena dimasa mendatang
Sumatera Barat akan banyak berdiri perusahaan dan pabrik sebagai lahan
pekerjaan bagi setiap orang.
g) Rendahnya tingkat investasi untuk pengembangan infrastruktur
Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang cukup lama serta peraturan daerah belum
mampu memberikan kepastian hukum bagi para investor maka hasrat untuk
berinvestasi dalam bidang pelayanan publik menjadi terhambat. Pemerintah
kedepan akan mengupayakan perekonomian disegala sektor dengan bekerja sama
dengan para investor yaitu memberikan fasilitas perizinan one window dan
maksimal 17 hari kerja seperti yang dicanangakan oleh Gamawan Fauzi menteri
dalam negeri di Padang tertanggal 07 Desember 2009 di kantor DPRD Sumatera
Barat saat pelantikan Marlis Rahman sebagai Gubernur.
h) Tingkat kemiskinan dan pengangguran di Sumatera Barat
Kinerja provinsi Sumatera Barat dalam mengatasi masalah pengangguran dan
kemiskinan perlu ditingkatkan. Jumlah pengganguran terbuka di tahun 2008
tercatat sekitar 207 ribu jiwa atau 10 persen dari total angkatan
kerja, sedangkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2008 sekitar 477 ribu
jiwa atau 11 persen dari total penduduk Sumatera Barat. Pengangguran
dan kemiskinan harus tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintahan priovinsi
Sumatera Barat kedepan. Untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan dan
pengangguran yang sejalan dengan kebijakan nasional, pelaksanaan berbagai
program pembangunan perlu diarahkan ke kecamatan dan desa-desa miskin, serta
dilakukan dengan pola padat karya. Dengan demikian, pelaksanaan program
pembangunan dapat meningkatkan ketersediaan, perbaikan pemeliharaan prasarana
dan sarana fisik, berbagai sarana pelayanan dasar, serta sekaligus menciptakan
kesempatan kerja dan pendapatan bagi masyarakat di sekitarnya (biro humas dan
TU pimpinan)
i) Pertumbuhan ekomoni yang relatif lambat
Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada semester I-2009 berdampak negatif terhadap
penerimaan pemerintah daerah. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga
akhir semester I-2009 juga mengalami penurunan khususnya pada kelompok Pajak
Daerah, Retribusi Daerah, dan lain-lain PAD yang Sah. Pada tahun lalu,
realisasi pajak daerah mencapai Rp 663 milyar sedangkan hingga
pertengahan tahun 2009 realisasi pajak daerah baru mencapai Rp 299 juta.
Pada triwulan ini, stimulus fiskal pemerintah baik pemerintah pusat maupun
daerah belum optimal. Pada pertengahan Oktober 2009, belanja pemerintah pusat
melalui KPPN Padang baru direalisasikan sebesar 57,7% dengan penyumbang
terbesar pada kelompok belanja pegawai (86,35%), belanja lain-lain (62,95%),
dan belanja bantuan sosial (51,98%). Belanja modal dan belanja barang yang
diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi hanya terealisasi dibawah 50%.
Situasi yang sama juga terjadi pada pemerintah daerah baik pemerintah provinsi
maupun pemerintah kabupaten/kota. Pola simpanan pemerintah daerah pada tahun
ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya dimana realisasi belanja
terkonsentrasi justru pada triwulan IV. Bahkan pada triwulan I-2009, posisi
simpanan pemerintah daerah berada lebih tinggi dibandingkan periode yang sama
selama 3 tahun terakhir. Lebih lanjut, pola realisasi belanja yang menumpuk
pada akhir tahun anggaran juga terjadi merata pada seluruh pemerintahan
kabupaten/kota. Hal ini mengindikasikan bahwa keterlambatan realisasi APBD
belum ditangani secara optimal. Ketepatan pengesahan APBD yang sudah berhasil
dilakukan pada tahun ini perlu ditindaklanjuti dengan perbaikan pada proses
pelaksanaan anggaran. Untuk mendorong SKPD agar mempercepat realisasi anggaran,
sistem reward and punishment dapat digunakan dengan menjadikan kecepatan
realisasi anggaran sebagai indikator kinerja.
olehYefri
Wangsa For Gubernur Sumatera Barat 2015-2020

- Kehidupan masyarakat Sumbar yang perlu mendapat perhatian Part I
- PENYEBAB PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN SUMATERA BARAT LESU
- PEMBINA KELUARGA BESAR PKDP DI PERANTAUAN (INDONESIA): KONTRIBUSI PIKIRAN YEFRI WANGSA BAGI SUMATERA
- REKAMAN SEJARAH PERIKANAN DAN KELAUTAN YANG AKAN LAHIR
- YEFRI WANGSA, KANDIDAT GUBERNUR SUMATERA BARAT (2015-2020)
Isi Komentar :



