Jumat, 18 November 2011 - 18:45:36 WIB
Potensi Lautan Indonesia
Kategori: Perikanan - Dibaca: 108 kali

Menurut data yang dirangkum Direktorat Jenderal Perikanan (2007), produksi ikan pelagis besar pada tahun 2006 sebesar 592.341 ton atau 21,5% dari produksi perikanan laut Indonesia sebesar 2.752.838 ton. Dari jumlah tersebut kelompok produksi terbesar adalah jenis tongkol sebanyak 31,2% yang di ikuti oleh cakalang, tenggiri dan cucut masing-masing 26,9%, 17,2%, 14,1% dan 10,7%. Dibandingkan dengan produksi tahun 2004 sebesar 295.338 ton produksi ikan pelagis besar pada tahun 2005 adalah sebesar 952.341 ton, jadi kenaikan produksi ikan tersebut rata- rata 17,2% setiap tahun. Jika dirinci menurut kelompok jenisnya, maka kenaikan rata-rata pertahun selama periode 1996 - 2005 mengalami kenaikan, rata-rata ikan tuna 11,1%, cakalang 7,2%, tongkol 5,5%, tenggiri 34,9%, dan cucut 38,1.

Potensi perikanan laut Indonesia yang terdiri atas potensi perikanan pelagis dan perikanan komersial terbesar pada hampir semua bagian perairan laut Indonesia yang ada seperti pada perairan laut teritorial,perairan laut Nusantara, dan perairan laut Zona Ekonomi Eklusif (ZEE). Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km² dengan garis pantai terpanjang ke dua di dunia sepanjang 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.845 pulau memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun dan dapat dikelola secara lestari dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton yang tertangkap di perairan Indonesia dan 1,86 juta ton dapat diperoleh dari perairan ZEE.

Pemanfaatan potensi perikanan laut Indonesia ini bernilai ekonomis tinggi untuk kebutuhan lokal dan ekspor, yang tentu saja dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat. Walaupun telah mengalami berbagai peningkatan pada beberapa aspek, namun secara signifikan belum dapat memberi kekuatan atau peranan terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan Indonesia. Peningkatan pemanfaatan potensi perikanan semestinya membuka lapangan kerja yang sangat luas terutama bagi putra daerah dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tuna terdapat di semua perairan terutama perairan yang memiliki kadar garam yang tinggi. Di Lautan Hindia penyebarannya meluas dari 30° LS ke utara dan dari timur Afrika hingga barat Australia. Di perairan Nusantara, terdapat di laut dalam seperti: Laut Bali, Laut Flores, Laut Sewu, Laut Arafuru dan Laut Banda. Fishing ground tuna di Indonesia terletak di perairan selatan dan barat Sumatera, perairan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Laut Banda, Laut Maluku dan perairan sebelah barat Irian Barat.

Perairan Indonesia dan khususnya perairan Sumatera Barat memiliki sumber daya alam berupa potensi ikan yang melimpah. Lalu apa solusinya? Apa yang perlu di perbuat? Perlu terobosan yang profesional dan tindakan yang cerdas serta pemimpin yang sangat memahami dunia perikanan dan kelautan bagi Sumatera Barat di masa datang!
 
Selaku putera daerah Sumatera Barat, saya ingin menjadikan daerah ini sebagai basic perikanan tangkap di kawasan Sumatera dan Indonesia bagian barat. Hal tersebut sangatlah beralasan karena provinsi Sumatera Barat secara geografis terletak dipantai barat Pulau Sumatera yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, sehingga daerah ini tidak terlalu jauh bagi kapal-kapal penangkapan ikan dari daerah penangkapan (fishing ground) ke aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB) Kota Padang.

Di Provinsi Sumatera Barat telah banyak berdiri sekolah kejuruan perikanan dan kelautan. Sebagaian sekolah tersebut sudah menamatkan siswa yang siap bekerja pada kapal-kapal perikanan dan kapal niaga lainya. PT. MARINE SUPPORT INDONESIA di bawah kepemimpinan saya sebagai mantan pelaut dan alumni angkatan pertama Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Pariaman telah menyalurkan alumni sekolah perikanan dan kelautan yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat sebanyak 450 orang dari tahun 2001 sampai tahun 2009. Sedangkan dari provinsi lain di negara Republik Indonesia telah disalurkan sebanyak 2250 orang ke kapal-kapal berbendera asing untuk bekerja. Mereka telah mendapatkan pengalaman yang berguna baik bagi dia sendiri maupun sebagai aset bagi bangsa Indonesia di satu sisi. Saya berharap bagi mereka yang sudah bekerja di luar negeri akan mampu membawa segudang ilmu dan dapat diterapkan ke daerah untuk tujuan tersebut di atas.

Dari uraian singkat di atas, PT. MARINE SUPPORT INDONESIA, siap berkolaborasi dengan pihak-pihak yang terkait seperti Lembaga Pendidikan, Dinas Perikanan dan Kelautan, para investor, pemerintah dan pemerhati untuk bersinergi membangun bangsa ini terutama Sumatera Barat di sektor perikanan dan kelautan seperti yang saya cita-citakan. Saya yakin, harapan saya dapat diterima masyarakat.

Saya selalu memperjuangkan armada penangkapan ikan berbendera asing untuk beroperasi di wilayah laut Sumatera Barat dan lautan Indonesia pada umumnya. Perjuangan tersebut sudah berada di depan mata karena perusahaan yang saya pimpin telah lama bekerja sama dengan perusahaan negara asing seperti Taiwan, Jepang, Malaysia dan Korea. Tinggal menunggu respon dari semua pihak dan memudahkan perizinan dalam hal mambentuk kerja sama.

Seperti yang pernah saya lakukan pada tahun 2004 sebanyak 42 unit kapal tuna long line yang beroperasi di laut Sumatera Barat dan berlabuh di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB) Padang. Kapal penangkapan ikan tersebut biasanya berlabuh di pelabuhan perikanan Samudra Jakarta dan pelabuahan Benoa Bali. Dampak positif terhadap masyarakat adalah membuka lapangan pekerjaan baik sebagai ABK kapal maupun sebagai perkerja di pelabuhan serta menambah pemasukan daerah seperti pertembuhan ekonomi masyarakat sekitar pelabuhan perikanan Samudra Bungus. Dengan pengalaman tersebut, saya akan memulai mendatangkan armada penangkapan ikan dari negara Taiwan, Jepang, Korea dan Sri Langka dalam jumlah besar.


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)