Jumat, 18 November 2011 - 18:38:01 WIBPandangan Umum Eksplorasi Perikanan
Kategori: Industri Perikanan - Dibaca: 73 kali
Sejak 16 November 1994, hukum laut internasional memberlakukan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), sehingga Indonesia memiliki wilayah laut lepas pantai sekitar tujuh juta km persegi. Dalam konsekuensi ekonomi sangat menguntungkan bagi Indonesia. Akan tetapi juga merupakan tantangan dan bertambahnya tanggung jawab tidak saja kepada bangsa sendiri tetapi juga kepada dunia Internasional untuk mengelola laut secara maksimal. Pengelolaan untuk mendapatkan manfaat secara ekonomi tentunya kita mesti memakai teknologi pengelolaan laut sehingga potensi laut yang demikian besar dapat tereksplorasi dengan baik.
Bertambahnya zona laut bagi Indonesia, tentu bertambah pula potensi perikanan. Ikan tuna, misalnya, adalah salah satu kekayaan laut yang memberikan keuntungan ekonomi berlimpah jika dieksplorasi dengan baik. Salah satu jenis ikan tuna yakni scombridae sangat aktif dan biasanya tersebar dari zona laut dalam sampai dekat pesisir daerah pantai. Migrasi kelompok tuna di Indonesia meliputi wilayah pantai, wilayah perairan dan ZEEI. Keberadaan tuna di daerah air tergantung kepada beberapa faktor yang terkait dengan spesies dan hidro-oseanografi air. Migrasi kelompok tuna lewat ZEEI disebabkan oleh posisi perairan Indonesia, yang terletak di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Karena itu sebagian dari perairan ini memiliki sumber daya perikanan tuna. Sumatra Barat dan Samudera Hindia serta Zona Ekonomi Eksklusif menguntungkan terhadap laut Indonesia (ZEEI), yang jika diekplorasi akan menjadikan beberapa pelabuhan daerah menjadi basis ikan tuna segar. Perikanan tuna berubah secara dinamis mengikutiperubahan pasar dan perkembangan teknologi. Saat ini produk tuna tidak hanya dari tuna beku, tetapi ada juga tuna segar, terutama untuk pasar Jepang bahkan telah masuk ke pasar di Amerika, Eropa, beberapa negara-negara Asia seperti Korea, Taiwan, Singapura dan Hong Kong. Tetapi produksi ikan tuna kaleng juga mengalami peningkatan. Produk ikan tuna segar akan lebih cepat untuk dipasarkan terutama memenuhi kebutuhan olahan segar seperti shasimi (sajian ikan mentah).
Shasimi adalah ikan tuna yang dipotong berukuran panjang 10cm -25cm dengan ketebalan 0,5 cm - 1cm. Hidangan shasimi dilengkapi dengan soyo (kecap asin), bawang putih yang telah dihaluskan dan mayonis. Disajikan dalam porsi shasimi dan sushi (beras ketan yang dilapisi dengan irisan daging ikan tuna, dibungkus dengan keripik yang berbahan ikan dan tepung setipis kertas). Hidangan satu porsi shasimi 5 – 10 potong ini dapat ditemukan di restoran dan hampir semua hotel berbintang yang ada di Jepang dengan harga berkisar US $5 $15. Jika 1 ekor ikan Tuna dengan berat 50 kg dijual dalam bentuk shasimi, kita dapat mengkalkulasi besarnya dollar yang dapat dimasukkan sebagai devisa kita.
Perkembangan alat tangkap tuna long line dengan bahan alat tangkap dari monofilament, nilon, wire, skyama, pancing dan tali bahan nabati telah berkembang pesat sejak tahun 1980 yang dimotori dari negara Asia Timur seperti Jepang, Korea, dan Taiwan. Dalam kurun waktu lima tahun Negara-negara tersebut telah mampu menangkap ikan hampir di semua lautan di dunia termasuk Indonesia. Pada tahun 1985 barulah bangsa Indonesia sadar akan potensi laut yang selama ini ditangkap oleh negara asing. Maka terjadilah berbagai perundingan untuk memanfaatkan potensi ikan di Indonesia dengan syarat utama yaitu perusahaan Indonesia dapat bekerja sama dengan perusahaan Jepang.
Isi perjanjian, Kapal tuna long line Jepang bekas diatas 8 tahun, hasil tangkapan tuna dijual ke Jepang (hanya ikan reject yang dipasarkan di Indonesia), fishing master, chif engineer dan boat swint harus berkebangsaan Jepang dengan standar gaji tinggi dibandingkan orang Jepang yang telah bekerja dikapal ikan tuna Jepang dan bagi hasil yang kurang adil. Inilah kondisi yang dialami perusahaan perikanan Indonesia pada kurun 1980-1990. Sangat MEMPRIHATINKAN!
Dalam rangka berpartisipasi dalam pasar global, yang memiliki potensi besar, bisa diestimasikan peningkatan permintaan dari konsumen dan harga yang terus meningkat setiap tahunnya. Sebagaimana dipaparkan di atas, dapat diusulkan pembentukan sebuah perusahaan penangkapan ikan di Sumatra Barat/Samudera Hindia sebagai salah satu laut yang memiliki kekayaan ikan tuna. Di sini dioperasikan armada kapal penangkap ikan jenis tuna long line yang dilengkapi dengan alat pemancing ikan tuna dan pengolahan seperti cold storage untuk di ekspor ke pasar yang telah disebutkan sebelumnya serta pemenuhan permintaan pasar lokal. Untuk Pengembangan Industri Tuna Cluster (perikanan terpadu) di perairan barat Indonesia dengan areal penangkapan Samudera Hindia dapat didukung Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus yang terletak dikota Padang dan pelabuhan Sikakap Kepulauan Mentawai untuk menjadi pusat penjulan dan tempat pengolahan tuna beku dan tuna segar.
Migrasi Ikan Tuna Dunia
Geografis kepulauan Indonesia dari ujung Sumatera sampai Maruke, Irian berhadapan langsung ke Samudera Hindia. Migrasi tuna pada saat tertentu melintasi benua dari Samudera Atlantik, Pasifik, ke Samudera Hindia. Sehingga migrasi tersebut menelusuri lautan Indonesia yang meliputi periran pesisir, teritorial, dan ZEE. Keberadaan ikan tuna sangat tergantung kepada faktor hidro-oseanografi dan berpengaruh kepada pola imigrasi. Migrasi ikan tuna di Indonesia itu terjadi karena beberapa daerah di Indonesia langsung terhubung ke kedua samudera, oleh arena itu daerah tersebut memiliki banyak potensi ikan tuna dari berbagai jenis.
Perubahan iklim dunia dapat berpengaruh terhadap daerah penangkapa ikan dan tingkah laku ikan (fish behavior), sehingga alat tangkap yang dipergunakan harus diubah, diacak baik konstruksi maupun bahan yang dipergunakan termasuk konstruksi dan ukuran kapal yang dipakai. Dalam pengembangan perikanan tuna di Indonesia pada lima tahun sebelumnya memakai alat tangkap tuna long line frozen menghasilkan ikan tuna beku. Tetapi pada saat ini, orientasi produk ikan tuna beku telah berubah ke produk ikan tuna segar. Sehingga ukuran kapal optimal yang dioperasikan adalah kapal yang berukuran 100 GT dengan lama operasi kurang lebih 21 hari.
Sektor Program Utama
Perkonomian dan pembangunan daerah tergantung pada eksplorasi sumber daya alam perairan dan sumber daya alam yang ada. Pemerintah Sumatera Barat yang akan datang, harus berkonsentrasi penuh dalam kegiatan mengeksploitasi sumber daya alam di perairan sebagai perioritas utama dan berimbas kepada sumber daya alam yang ada di daratan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan jika sumber daya alam digarap dengan kemampuan sumber daya manusia yang tersedia. Sumber daya perikanan di Sumatera Barat dapat dieksplorasi secara merata dengan tingkat penangkapan ikan yang lebih besar daripada yang diperlukan untuk mencapai hasil yang maksimal terutama memenuhi pasar lokal dan mengekspor hasil tangkapan ikan ke mancanegara dengan harga jual yang bersaing.
Perikanan tuna nasional serta industri yang berskala kecil harus selalu mampu bersaing dan mengikuti permintaan pasar jika jumlah armada diperbanyak. Bisnis perikanan tuna di Indonesia masih memanfaatkan potensi hanya di perairan territorial Indonesia. Padahal perairan ZEEI sangat menjanjikan. Beberapa daerah tidak memamfaatkan potensi ini karena kurangnya fasilitas untuk industri pengolahan ikan tuna. Sebagai contoh, tuna segar saat ini hanya diandalkan di daerah Jakarta dan Denpasar, Bali, karena ketersediaan bandara dan pesawat transportasi langsung ke negara tujuan ekspor dari kota tersebut. Sedangkan armada penangkapan ikan tuna di Cilacap juga masih menggunakan Jakarta serta Bali untuk ekspor produk mereka ke Jepang dan negara-negara lain, karena daerah tersebut tidak memiliki infrastruktur yang memadai. Penerbangan langsung dari bandara di Indonesia ke negara-negara asing sangat diperlukan karena produk tuna harus dikirim cepat kepada konsumen di negara tujuan yang memerlukan tuna segar. Sebenarnya daerah Sumatera Barat sudah bisa memamfaatkan fasilitas yang ada, yakni pelabuhan perikanan yang berskala samudera di Bungus, Padang dengan jarak tempuh ke Bandara International Minangkabau lebih kurang 30 km dan kesiapan saranan penyimpanan, cargo ikan di bandara tersebut. Hanya tinggal pesawat cargo yang membawa ikan ke negara tujuan pasar. Ini salah salah satu tugas pemerintah Sumatera Barat di masa yang akan datang.

- APLIKASI TEKNOLOGI REMOTE SENSING (NOAA) DALAM PENENTUAN FISHING GROUND
- TEKNOLOGI PENGINDERAAN JARAK JAUH
- Statistik Tuna
- Indurstri Pendukung Penangkapan Tuna Sumatera Barat
- PERUBAHAN IKLIM DAN PEMAHAMAN TRADISIONAL PADA BEHAVIOR IKAN DI LAUT SEBABKAN KAPAL TONDA DI SUMBAR
Isi Komentar :



