Jumat, 18 November 2011 - 18:35:45 WIBAPLIKASI TEKNOLOGI REMOTE SENSING (NOAA) DALAM PENENTUAN FISHING GROUND
Kategori: Industri Perikanan - Dibaca: 39 kali
Sumber daya ikan di perairan Indonesia belum dikelola secara optimal terutama di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indoensia (ZEEI), tetapi sulit menentukan daerah potensial sebagai daerah penangkapan ikan (fishing ground) sehingga diperlukan teknologi penginderaan jarak jauh (digital dan visual citra satelit NOAA-14/AVHRR) untuk pemanfaatan sumberdaya secara optimal. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat besar, memiliki perairan laut dengan luas 5,9 juta km2 dan sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Salah satu jenis hayati laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena merupakan komoditas eksport dan banyak tersebar di perairan Indonesia adalah ikan pelagis, baik dari jenis ikan pelagis besar maupun ikan pelagis kecil. Hasil kajian yang dilakukan oleh komisi ilmiah pengkajian stok ikan (stock accessment) menunjukkan bahwa bila sumberdaya ikan di perairan Indonesia dikelolah secara optimum maka dapat dimanfaatkan sampai 6,26 juta ton pertahun. Kenyataannya tingkat pemanfaatan perairan laut Indonesia pada tahun 1997 baru mencapai 3,5 juta ton pertahun atau sekitar 56% saja dari jumlah keseluruhan. Dari total potensi yang digambarkan di atas, ikan pelagis memiliki jumlah terbesar yaitu 4,29 juta ton, terdiri dari pelagis kecil 3,23 juta ton dan 1,054 juta ton ikan pelagis besar.
Di masa yang akan datang, prospek pembangunan perikanan Indonesia menjadi salah satu kegiatan ekonomi strategis dan dinilai cerah. Hal ini juga dimungkinkan karena adanya perubahan prilaku masyarakat dunia yang mengalami pergeseran pola konsumsi ke produk-produk perikanan dan
hasil laut. Di samping itu keterbatasan kemampuan pasok perikanan dunia akan menjadikan ikan sebagai salah satu komoditi strategis dunia. Hal ini sangat didukung oleh oleh potensi perikanan yang dimiliki oleh Indonesia. Hal lain yang semakin mendorong terciptanya pembangunan perikanan yang berbasis pada kepentingna masyarakat adalah lahirnya kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia (ZEEI) Permasalahan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan laut Indonesia adalah sulitnya menentukan daerah potensial sebagai lokasi penangkapan ikan (fishing ground). Pada umumnya nelayan di Indonesia masih menggunakan cara-cara konvensional, yaitu hanya dengan memanfaatkan panca indera yang dimiliki oleh nelayan. Keterbatasan panca indra nelayan dalam menduga fishing ground tidak hanya menyebabkan inefisiensi penggunaan bahan bakar sebanyak 60%-70%, tetapi juga menyebabkan terkonsentrasinya kapal-kapal penangkap ikan di lokasi tertentu. Sebagai akibatnya pada daerah tertentu terjadi pengeksploitasian secara berlebihan (over fishing). Jika hal ini dibiarkan terus menerus dalam jangka waktu tertentu kelestarian sumberdaya perikanan akan terganggu, sebaliknya pada daerah yang memiliki potensi ikan yang cukup besar justru tidak dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu perlu disiasati suatu cara agar kegiatan penangkapan ikan menjadi efektif, yakni dengan memanfaatkan data satelit penginderaan jarak jauh yang saat ini datanya sudah dapat diperoleh di Indonesia.

- TEKNOLOGI PENGINDERAAN JARAK JAUH
- Statistik Tuna
- Indurstri Pendukung Penangkapan Tuna Sumatera Barat
- PERUBAHAN IKLIM DAN PEMAHAMAN TRADISIONAL PADA BEHAVIOR IKAN DI LAUT SEBABKAN KAPAL TONDA DI SUMBAR
- Mendirikan Asosiasi Perikanan
Isi Komentar :



