Jumat, 18 November 2011 - 18:23:40 WIB
Hasil Analisis Penggunaan Citra
Kategori: Industri Perikanan - Dibaca: 100 kali

Waktu Akusisi Data Satelit Satelit NOAA-AVHRR yang mengorbit polar didesain untuk dapat memantau permukaan bumi dalam skala luas. Satelit NOAA ditargetkan dapat meliputi seluruh permukaan bumi dengan bergerak dari selatan ke utara pada orbitnya di satu sisi bumi (ascending pass) dan kebalikannya dari utara ke selatan pada sisi bumi yang lainnya (descending pass) Untuk wilayah
Indonesia, dalam satu kali liputannya satelit NOAA-AVHRR dapat mencakup luasan maksimum 2048 pixel. Sebuah pixel citra satelit NOAA-AVHRR berukuran 1,1 km X 1,1 km. Dengan demikian hanyadalam satu kali orbita luas daerah Indonesia sebesar 2/3 dapat diliput. Dalam satu hari kurang lebih 24 jam, ground station satelit NOAA_AVHRR milik BPPT dapat menerima minimal 2 cita dan
maksimal 4 citra untuk daerah yang berbeda yaitu dua data dari ascending orbit dan dua citra dari descending orbit. Untuk seri satelit NOAA-12 data ascending diterima pada sore dan malam hari, sedangkan data descending diperoleh pada saat subuh dan pagi hari.
 
Kondisi Liputan Awan

Sensor AVHRR yang dibawa oleh satelit NOAA adalah multi spectral scanner dengan lima band pada panjang gelombang yang berbeda, mulai dari sinartampak dan far infrared (infrared jauh). Band 2
lebih sesuai digunakan untukmengobservasi bumi dalam bentuk (quick look) pada siang hari. Sedangkan band 3lebih bagus digunakan untuk menampilkan quick look pada malam hari. Dengan menggunakan kedua band spectral ini kita dapat melihat kondisi/data secara cepat,sehingga dapat dianalisis dengan cepat termasuk kondisi awan. Sebagaimana umumnya sensor yang berkerja pada sinar tampak dan infra merah, sensor AVHRR tidak dapat menembus awan sehingga pada saat mengorbit di atas lokasi yang tertutup awan sensor AVHRR tidak dapat mendeteksi kondisi perairan yang ada di bawahnya.

Untuk wilayah Indonesia liputan awan terbanyak umumnya terjadi pada saat musim hujan yang biasanya berlangsung antara bulanoktober sampai bulan februari. Liputan awan pada musim hujan tidak hanyamenutupi wilayah di daratan saja, namun juga wilayah perairan/lautnya. Ada saatmusim hujan bukan hanya daerah yang tertutup awan saja yang tidak dapat diolah lebih lanjut, tetapi data yang tertutup awan tipis dan daerah bayangan awan jugatidak dapat diekstrak informasinya. Sehingga pada periode musim hujan sngat sedikitcitra yang dapat dimanfaatkan untuk dianalisis lebih lanjut menjadi citra suhupermukaan laut (SPL) yang menjadi dasar pemetaan daerah penagkapan ikan.
 
Pemilihan Data Data terpilih adalah data hasil akusisi, baik pada saat ascending orbit (data pada saat sore dan malam hari) maupun data ascending orbit (data pada saat subuh dan pagi hari) yang bebas awan atau sedikit berawan pada lokaisi yang sedang diamati. Untuk itu ditetapkan kriteria bahwa
citra satelit yang digunakan adalah citra citra yang tutupan awannya tidak lebih dari 50% untuk masing-masing daerah yang diamati. Dari data BPPT sampai pada akhir februari 2002 data satelit NOAAAVHRR yang dapat diakusisi mencapai 152 citra (raw data). Data ini merupakan data akusisi global yang meliputi daerah Indonesia bagian barat sampai bagian tengah dengan luas cakupan
2048 pixel. Sekitar 52% data yang dapat diakusisi tadi tertutup awan, dengan luasan tutupan awan 75% sehingga tidak dapat dimanfaatkan sama sekali. Sedangkan sisanya sebanyak 75 data lagi dapat dimanfaatkan. Sehingga dengan demikian kita dapat membuat estimasi manfaat dari penggunaan data ini, terutam ditinjau dari resiko dalam pengambilan datanya (raw data), contoh data akan ditampilkan di bawah ini:
 
Dengan demikian data terpilih yang ada di atas saja yang akan digunakan dalam menganalisis daerah potensila fishing ground. Berdasarkan hasil pengamatan kendati data yang diberikan ini sudah dapat digunakan, namun beberapa daerah khususnya daerah terpencil seperti Sibolgamasih belum menggunkan data ini, hal ini menjadi salah satu akibat kurangnya sosialisasi terhadap penggunaan data tersebut.
 
Peta Daerah Potensi Penangkapan Ikan

Peta fishing ground yang ada di daerah Indonesia dibuat berdasarkan informasi suhu permukaan laut yang merupakan salah satu parameter lingkungan laut dalam menentukan lokasi front di wilayah terbuka dan diduga berkaitan dengan tingkah laku ikan. Informasi ini akan diperoleh dari hasil pemrosesan data satelit NOAA-AVHRR yang terpilih dan bebas/sedikit dari tutupan awan. Seperti yang digambarkan dalam proses pengambilan data dan pengolahan data, tahapan-tahapan diatas telah termasuk tahapan:
1. Konversi data mentah menjadi parameter fisis
2. Koreksi atmosferik
3. Deteksi dan eliminasi awan

Pada hakekatnya pemrosesan data untuk mendapatkan peta fishing ground adalah pemrosesan data untuk menghasilkan temperatur menggunakan sensor thermal infrared AVHRR. Proses lanjutan yang dilakukan sebelum peta potensi tangkapan ikan adalah tes akurasi algoritma yang digunakan untuk menentukan ketepatan suhu permukaan laut (SPL) untuk setiap pixelnya, yang layak sebagai dasar pemetaan daerah tangkapan ikan.

Untuk mendukung tuntutan ini, peralatan stasiun bumi penerima data satelit di BPPT diengkapi dengan local application of remote sensing techniques (LARST). Sistem ini terdiri atas sebuah motor penggerak antara horn, Sebuah receiver AVHRR dan dua buah personal komputer dengan card penghubung satelit dan ekstra random access memory (RAM). Dari semua data yang telah dipotong (yang bebas awan) hanya sebagian saja yang akan diinterpretasikan dan akan mendapatkan indikasi front yang digunakan sebagai dasar pendugaan lokasi potensial untuk daerah penangkapan ikan (fishing ground). Data yang telah berisi informasi indikator dugaan daerah fishing ground seperti yang dipaparkan sebelumnya akan ditambahkan dengan informasi lain yang berasal dari peta topografi (wilayah perairan) dan data in-situ lain yang dimiliki, selanjutnya akan ditampilkan secara kartografis sebagai peta berefrensi geografis.Data ini akan semakin mudah untuk dipakai oleh masyarakat, khususnya nelayanyang menangkap ikan pelagis di sepanjang perairan Indonesia.

Penggunaan Data Satelit

NOAA dalam Masyarakat Pesisir Setelah mendapatkan data dalam bentuk peta kartografi maka diharapkan data ini dapat diakses keberbagai lapisan masyarakat yang membutuhkannya. Sejauh yang kita lihat bahwa saat ini masyarakat Indonesia kurang begitu mengenal aplikasi dan pemanfaatan dari data ini. Hal ini dapat dilihat sebagai salah satu faktor penyebab keterlambatan majunya dunia perikanan kita, terutama nelayan-nelayan kecil. Seperti yang kita ketahui bahwa pemanfaatan teknologi inderaja ini tidak hanya dipakai oleh negara kita melainkan juga dinikmati oleh negara-negara lain. Kita mengetahui bahwa penggunaan data citra satelit telah memajukan negara-negara perikanan yang ada di sekitar perairan Indonesia, seperti Thailand yang sering sekali melakukan pencurian ikan di sekitar perairan kita. Dari sudut pandang inilah diharapkan pemerintah mau turut membantu penyampaian informasi sampai pada lapisan paling bawah. Dengan adanya informasi ini maka kehidupan nelayan dapat lebih ditingkatkan. Selain kendala dalam sosialisasi data kartografi, kendala teknologi manjadi salah satu pemicu mengapa pemanfaatan sumberdaya perikanan di negara kita kurang begitu optimum.

Saya coba menggambarkan bahwa di perairan Samudera Hindia memiliki daerah fishing ground yang relatif jauh, sehingga dibutuhkan tenaga mesin kapal yang lebih besar. Hal inilah yang belum dimiliki oleh semua masyarakat nelayan di kawasan pesisir kita. Thailand mampu melakukan pencurian dan dapat melarikan diri dari kejaran aparat karena mereka memiliki kemampuan dalam hal teknologi perkapalan. Dimasa yang akan datang penggunaan citra akan semakin optimal bila kita bisa memadukannya dengan teknologi kapal yang juga memenuhi syarat. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memajukan perikanan di kawasan perairan Indonesia, yang menjadi pertanyaan bagaimana peran serta pemerintah, lembaga-lembaga masyarakat (LSM) dan bantuan seluruh masyarakat untuk saling membantu. Kendala klasik yang menghambat perkembangan teknologi ini adalah, paradigma masyarakat pesisir cenderung untuk tidak mau diajari, seperti yang saya lihat di Sibolga bahwa masyarakat pesisir di Sibolga khususnya nelayan penangkap ikan pelagis, tidak mau memanfaatkan data ini karena merasa bahwa diri mereka telah mampu/pintar dalam hal menangkap ikan.
 
Di sinilah peran serta pemerintah harus lebih peka lagi dalam menghadapi masyarakat yang terbelakang. Mereka selalu merasa bahwa teknologi memiliki harga yang sangat mahal, sehingga mereka merasa dirugikan.

Bila mereka berpandangan lebih jauh bahwa biaya bensin yang mereka keluarkan untuk mencari daerah fishing ground jauh lebih besar dibandingkan dengan meminta data peta kartografi daerah fishing ground yang telah tersedia. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi maka diharapkan peran serta masyarakat untuk mau belajar mengkonsumsi teknologi tersebut lebih ditingkatkan.

Remote sensing adalah salah satu solusi yang dapat digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan kita secara optimum, karena kita mengetahui dengan jelas bahwa salah satu kendala pemanfaatan sumberdaya alam kita secara terpadu adalah kurangnya ketertarikan kita terhadap dunia teknologi. Salah satu daerah yang belum menggunakan data kartografi daerah fishing ground adalah Sibolga. Untuk itu diharapkan kedepannya dengan pemanfaatan teknologi remote sensing maka pengembangan produktifitas perikanan khususnya di daerah dapat lebih ditingkatkan. NOAA-AVHRR sebagai salah satu alternatif penggunaan remote sensing dalam dunia perikanan, dimana dengan adanya satelit NOAA-AVHRR ini diharapkankita dapat mengetahui daerah penangkapan ikan, khususnya dengan menggunakan parameter suhu perairan (SPL). Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di duniaini tidak sempurna, begitu pula dengan kondisi penggunaan satelit NOAA-AVHRRyang sangat bergantung pada cuaca. Dengan mengkaji berbagai kelemahan satelit ini, maka kita mencoba untuk menggabungkan satelit ini dengan data dari satelit lain dalam pengaplikasiannya, sehingga estimasi tempat yang diberikan lebih mendekati daerah fishing ground yang sebenarnya. Sebagai akhir dari tulisan ini, yang menjadi pertanyaan bagaimana kita mampu menerapkannya serta bagaimana peran serta pemerintah dalam menghimpun masyarakat pesisir yang sangat majemuk dengan berbagai idealismenya masing-masing.


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)