Jumat, 18 November 2011 - 18:17:07 WIB
PERUBAHAN IKLIM DAN PEMAHAMAN TRADISIONAL PADA BEHAVIOR IKAN DI LAUT SEBABKAN KAPAL TONDA DI SUMBAR
Kategori: Nelayan - Dibaca: 58 kali

Perkembangan zaman dan teknologi disegala bidang terus berjalan. Demikian juga fenomena alam yang selalu berubah. Perubahan perairan berdampak kepada perubahan suhu, kadar air laut (salinitas), serta perubahan cuaca yang tidak menentu. Kondisi ini juga dapat berimbas terhadap daerah penangkapan ikan (fishing ground).

Kesuburan daerah penangkapan dapat kita ketahui dari peristiwa alam seperti naiknya masa air dari dasar laut dalam volume tertentu ke permukaan (up walling) yang mengangkat jasad renik ke permukaan air. Jasad renik merupakan bermacam  binatang laut yang telah mati, kayu, sampah
serta benda lain yang telah membusuk dan mengendap di dasar perairan. Peristiwa up walling berdampak positif terhadap daerah penangkapan ikan, karena jasad renik yang terangkat oleh air menjadi makanan ikan dan dapat menyuburkan perairan dari dasar laut sampai ke permukaan perairan. Pada kedalaman 150 m, terdapat jenis ikan pelagis dan domersal. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan terkonsentrasi atau bergerombol di daerah yang mengalami up walling. Pada kondisi
yang seperti inilah alat tangkap yang paling cocok adalah jenis pukat cicin (purse seine). Alat tangkap ini dioperasikan dengan sistem melingkari gerombolan ikan.
 
Faktor Penyebab Kapal Tonda Gulung Tikar

1. Fenomena Alam

Tujuan utama penangkapan kapal tonda yaitu ikan cakalang dan ikan sejenisnya. Sifat (fish behavior) ikan cakalang adalah jenis ikan buas (karnivora) dan perenang cepat (predator) yang hidup bergerombolan dalam jumlah besar. Memiliki panjang badan hingga 100cm (rata-rata 40-60 cm). Ikan cakalang, tongkol dan sejenisnya mampu berenang (beruaya) dari suatu perairan ke perairan lainya, baik secara vertikal maupun horizontal. Gerombolan ikan tersebut berenang beruaya untuk mencari makan sehingga dapat berlindung di kawasan rumpon.

Faktor alam seperti banjir dapat mengakibatkan erosi yang bermuara ke lautan. Kadar garam (salinitas) air laut yang berkurang dan pencemaran limbah industri dapat mengakibatkan perpindahan (migrasi) ikan. Pada prinsipnya, ikan selalu mencari tempat yang aman dan mencari tempat yang memiliki ketersediaan makanan untuk kelangsungan hidup. Diharapkan para nelayan memperlajari tingkah laku (fish behavior) ikan sebagai penyesuaian teknik penangkapan dan alat tangkap cocok digunakan.

Pada perairan penangkapan tonda, sudah banyak terpasang rumpon. Rumpon tersebut dimiliki oleh pengusaha kapal penangkapan purse seine dari daerah lain, seperti pengusaha dari Sibolga. Pada tahun 1999, perjanjian kerja sama telah dibentuk antara pedagang ikan Kota Padang dengan pengusaha kapal ikan purse seine dari Sibolga. Awalnya mereka melakukan transaksi jual beli ikan, selanjutnya kerja sama tersebut berlanjut untuk mendaratkan kapal purse seine ke pelabuhan perikanan Sumatera Barat.

Pendapatan ikan dari kapal purse seine jauh lebih banyak, sehingga terjadi kecemburuan sosial dengan pengusaha tonda Sumatera Barat. Mereka mengklaim bahwa kapal purse seine telah menghabiskan populasi ikan di perairan Sumatera Barat. Dan katanya hal tersebut sangat merugikan nelayan tradisional. Padahal kapal purse seine berbeda dengan kapal nelayan tradisional, baik dari segi bobot maupun alat tangkap yang digunakan.
 
Kenapa harus pesimis dengan hasil puirse seine yang jauh lebih banyak?
 
Pada tahun 1999-2001, alat tangkap purse seine disosialisasikan oleh berbagai permerhati perikanan Sumatera Barat, termasuk saya sendiri. Sosialisasi tersebut diajukan kepada pengusaha kapal tonda,
nelayan dan Dinas Kelautan dan Perikanan, baik dari tingkat Kota, Kabupaten bahkan sampai tingkat provinsi Sumatera Barat. Tetapi hal tersebut dianggap bukan solusi yang baik, malahan mendapat kecaman yang dimotori oleh pengusaha kapal tonda. Mereka melakukan demonstrasi ke DPRD I Sumatera Barat, dengan niat agar DPRD membuat surat resmi untuk mengusir kapal purse seine tersebut dan tidak diperbolekan berlabuh di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus.

Kapal tonda juga tidak melakukan operasi penangkapan setelah kapal purse seine tidak mendaratkan hasil tangkapanya di pelabuhan Sumatera Barat. Mereka membeli ikan dari kapal purse seine di laut lepas untuk dijual lagi di pelabuhan, dengan prinsip "dari pada membiayai operasional penangkapan, lebih baik membeli ikan dan menjual kembali". Yang awalnya mengusir kemudian malah mencari kesempatan dengan melakukan transaksi jual beli ikan di lautan yang terkesan memaksa agar kapal
pukat cincin mau menjual ikannya. Alat tangkap tonda sebelumnya merupakan alat tangkap
andalan oleh nelayan Sumatera Barat. Kenyatannya alat tangkap tersebut kurang efektif lagi. Karena bermacam perubahan sering terjadi, sehingga penangkapan ikan seharusnya selalu dirubah baik konstruksi, rangkaian dan sistem penggunaan alat tangkap serta kapal penangkapan ikan yang digunakan 
 
2. Fishing

Ground dan Alat Tangkap

Teknik penangkapan dengan tonda hanya mengandalkan kebiasaan masyarakat tradisional dan berpedoman kepada tanda-tanda alam untuk mencari daerah penangkapan. Nelayan kapal tonda tidak bisa menciptakan daerah penangkapan(fishing ground) karena tidak mau menerima perubahan. Kerterbatasan ilmu pengetahuan tentang penangkapan ikan yang mereka miliki menjadikan prinsip
yang selalu dipegang yaitu "telah melaut dari kecil dan meneruskan kebiasaan nenek moyang secara turun temurun".

Jenis ikan yang tertangkap oleh pancing tonda akan berubah, karena peralatan yang digunakan adalah pancing dengan umpan palsu yang terbuat dari bulu ayam dan plastik. Rangkaian kail dipasang dengan bambu yang terdapat di samping kiri, kanan dan belakang kapal. Lalu kapal melaju dengan kecepatan sedang sehingga ikan tongkol, cakalang dan jenis lainya mengejar umpan palsu yang dianggap makanan bagi ikan. Sehingga ikan tersebut memakan kail dan terperangkap (tertangkap).

Rumpon berfungsi sebagai tempat berlindung dan penyedia makanan bagi ikan. Dikawasan rumpon membentuk mata rantai kehidupan jenis ikan pelagis dan domersal. Rumpon dilengkapi dengan dedaunan, batang bambu, dan potongan kayu yang terapung. Lambat laun rangkaian rumpon tersebut
menghasilkan phytaplanton sebagai bahan makanan bagi zoo plankton zoo plankton dimakan juvenil  juvenil dimakan ikan kecil  ikan kecil dimakan ikan agak besar ikan besar dimakan oleh ikan yang lebih besar, sampai ikan-ikan muda pun berdatangan.

Inilah yang dimakan oleh cakalang, tongkol dan sejenisnya. Sedangkan ikan tongkol, cakalang dan jenis ikan plagis merupakan tujuan penangkapan. Mata rantai kehidupan ikan di kawasan rumpon dapat diilustrasikan seperti perumnas, yang terdapat rumah penduduk, sarana umum, pasar, sekolahan, perkantoran, kawasan industri, dan sarana lainya. Sehingga penduduk perumnas tersebut jarang bepergian karena kebutuhan hidupnya telah didapatkan di areal pemukiman itu.

Mungkinkah mereka berpindah tempat lagi untuk mencari kehidupan baru? Tidak ada alasan lagi, kita harus menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang juga telah mengubah prilaku ikan di dalam laut. Cara menangkap ikan pun harus mengalami perubahan dan selalu disesuaikan dengan menggunakan teknologi yang lebih maju. Kapal tonda sudah melewati masa kejayaannya. Adalah salah jika saat ini masih memaksakan pendapat bahwa ikan di perairan nelayan Sumatera Barat telah terkuras oleh penangkapan ikan oleh sistem tertentu. 

3. Karakter Pengusaha Kapal Tonda
 
Kapal tonda merupakan kapal penangkapan andalan pada tahun 1980 sampai 1994. Penghasilan dari alat tangkap tersebut melebihi alat tangkap lainya, seperti bagan, payang, jaring apung, dan pukat. Para pengusaha kapal tonda, biasanya membeli ikan dari hasil tangkapnya sendiri, menjual ikan ke pasar lokal ataupun ke konsumen. Disamping itu, pengadaan kapal pun dilakukan oleh pengusaha dengan perizinan yang meragukan. Penjualan ikan mengunakan sistem pelelangan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) daerah pelabuhan, tetapi hal tersebut merupakan rekayasa semata. Pengusaha tersebut dapat memonopoli pasar, karena harga tertinggi ditentukan oleh pemilik kapal. Supaya para pedagang dan para penawar lain tidak komplain, maka pemilik kapal memberi jatah pembelian ikan dengan jumlah yang ditentukan serta harga agak murah. Sehingga para pedangan ikan yang ikut menawar tidak pernah untuk memutuskan harga.

Setelah kapal bersandar di pelabuhan, kapten dengan crew disuruh pulang, dan keesokan harinya hasil tangkapan dibongkar. Hasil tangkapan dibongkar oleh buruh pelabuhan dan langsung dilelang. Pengusaha mengkondisikan crew kapal supaya tidak mengetahui jumlah, berat, jenis ikan yang tertangkap serta harga ikan yang terjual, karena saat operasi penangkapan ikan tidak dilengkapi alat
penimbang ikan, bahkan ikan yang tertangkap tidak perlu dicatat. Dan crew kapal tersebut tidak diperbolehkan untuk hadir di pelabuhan sampai hasil penangkapan dibongkar.

Kehidupan di pelabuhan telah merubah sosiologi kemasyarakatan karena telah mencerminkan pergaulan yang menjurus sifat otoriter dari tingkah laku pengusaha kapal tonda. Mereka selalu ingin disanjung dengan sebutan si abang, baik tua maupun muda memanggil pengusaha tonda si abang. Karakter pengusaha telah menyimpang dari kebiasaan orang Minangkabau sesuai dengan aturan hormat-menghormati (nan tuo dihormati, nan ketek disayangi, nan sano gadang lawan ba iyo) yang artinya orang yang lebih tua dihormati, orang yang lebih muda dari kita disayangi, orang seusia dengan kita diajak mufakat.

Tingkat kemonopolian pengusaha tonda yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang banyak, sehingga dia enggan melakukan perawatan kapal, alat tangkap dan mesin kapal. Dia berprinsip "selagi masih bisa dipakai, mengapa harus diganti" serta  merasa rugi untuk melakukan pergantian alat penangkapan serta komponen lainya. Mereka selalu mengejar keuntungan guna mencapai tujuan agar memiliki kapal tonda sebanyak-banyaknya. Padahal sejumlah kapal yang telah dimiliki seharusnya dilakukan pembaharuan teknik penangkapan, alat tangkap yang dipergunakan dan sistem operasi penangkapan. Para pengusaha rata-rata tidak menggunakan fasilitas pengkreditan, contohnya pinjaman dari bank karena pihak bank pun tidak mau berspekulasi mengucurkan pinjaman kepada pengusaha tonda, apalagi kepada nelayan tradisional. Sebab pihak perbankan percaya dengan image bahwa usaha penangkapan ikan merupakan usaha musiman. 

Pada tahun 1999 saya telah memprediksi dan mengeluarkan statement bahwa teknik penangkapan
ikan dengan alat tangkap tonda sekitar tahun 2004 akan mengalami kemerosotan yang drastis sampai tidak beroperasi lagi. Prediksi dan statement yang saya keluarkan terutama kepada pengusaha kapal tonda, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, anggota DPRD, serta komponen masyarakat berpengaruh. Mereka menggagap statement saya sangat berlebihan. Solusinya, saya membuat proposal untuk memodifikasi kapal tonda menjadi mini tuna long linepada bagian tertentu dari badan kapal dengan memakai alat tangkap mini tuna long line. Sesuai dengan prediksi saya, di tahun 2004 benar-benar menjadi kenyataan bahkan sampai sekarang kapal tonda tidak beroperasi lagi malahan menunggu lapuk di pelabuahan muara Padang dan di pelabuhan perikanan lainya daerah Sumatera Barat. Walaupun pihak tertentu telah ada yang melakukan modifikasi pada tahun 2006 akan tetapi kondisi kapal sudah rusak berat dan melapuk.


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)