Jumat, 18 November 2011 - 17:49:30 WIBStrategi Alih Teknologi Perikanan
Kategori: Perikanan - Dibaca: 42 kali
Kerjasama PT MARINE SUPPORRT INDONESIA yang dipimpin oleh YEFRI WANGSA telah membuahkan hasil dengan bentuk nyata, yaitu menempatkan putra daerah Sumatera Barat yang sebagian besar berasal dari tamatan SUPM, SMK Perikanan dan Kelautan untuk bekerja pada kapal penangkapan ikan berbendera asing dengan mempergunakan teknologi modern dan sebagian bekerja di kapal cargo, tugboat, serta tanker. Putra daerah Sumatera Barat sudah bekerja di kapal melalui perusahaan yang saya pimpin berjumlah 650 orang dan jumlahnya selalu bertambah. Meraka berasal dari seluruh daerah Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi Sumatera Barat. Pendapatan yang mereka terima di atas rata- rata jika dibandingkan dengan perkerja di sektor apapun yang ada di Sumater Barat. Ini suatu langkah positif yang telah kami sumbangkan kepada daerah Sumatera barat dalam rangka pengurangan angka pengangguran dan menambah devisa negara dari crew kapal yang bekerja di luar negeri.
Perjuangan kami tidak hanya sebatas peluang kerja bagi putra daerah Sumatera Barat, tetapi tetap mengusahakan pihak investor asing yang merupakan mitra kerja perusahaan kami untuk berinvestasi terutama di bidang perikanan dan sector-sektor lainya, guna membuka lapangan perkerjaan seluas-luasya dari semua sektor yang ada untuk memanfaatkan seluruh potensi yang ada dengan tetap menjaga kelestarian alam (usaha ramah lingkungan).
Langkah-Langkah yang Dilakukan adalah:
1. Mempromosikan potensi alam Sumatera Barat dalam sebuah kemasan yang profesional melalui website PT MARINE SUPPORT INDONESIA www.marinejeffri.com dan www.yefriwangsa.com dan promosi secara langsung setiap acara pertemuan dengan mitra kerja baik di Indonesia maupun saat kunjungan kami ke mancanegara.
2. Untuk lebih meyakinkan para mitra kerja kami dan calon investor asing, maka kami telah menampilkan legalitas perusahaan yang resmi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan di negara Republik Indonesia.
3. Berusaha semaksimal mungkin untuk merubah pandangan bahwa Indonesia masih dianggap oleh pihak asing dengan birokrasi yang tidak professional / berbelit-belit. Ini terbukti banyak para pemodal asing yang mengurungkan niatnya untuk megembangkan usaha dan berinvestasi di Indonesia.
4. Jika usaha ini berhasil, maka implementasi yang diutamakan adalah mengoperasikan armada penangkapan ikan dari Negara- negara asia timur seperti Taiwan, Jepang, Korea, Sri Langka dan China dengan ketentuan dan perizinan yang berlaku di Indonesia. Setelah memahami berdasarkan pengalaman yang dimiliki dari mulai bekerja di kapal penangkapan ikan sampai membuka usaha di bidang perikanan dan kelautan, maka kapal penangkapan ikan yang paling cocok dioperasikan adalah:
1 Mini Tuna Long Line (fresh fish)
2 Purse seine (pukat cincin)
Bobot kedua jenis kapal tersebut 100 sampai 350 GT yang dapat menyerap tenaga kerja (crew kapal) dengan rata- rata 25 orang per unit kapal. Tahap awal akan didimulai 50 unit armada penangkapan ikan, maka crew yang akan bekerja di sektor penangkapan ini sebanyak 1.250 orang. Bilamana hasil penangkapan ikan mencapai kuota tertentu untuk diolah di daerah maka akan membangun pabrik pengolahan hasil perikanan yang dapat mambuka lapangan pekerjaan baru.
5. Para nelayan Sumatera Barat diprioritaskan untuk bekerja di kapal tersebut, supaya dapat memahami teknologi modern penangkapan ikan agar bisa diterapkan bilamana mereka tidak lagi bekerja di kapal dan dapat membuka usaha sendiri.
6. Dibentuk asosiasi perikanan mulai dari tingkat provinsi sampai tingkat desa/kelurahan yang bertujuan mengakomodasi masyarakat, pelaku bisnis dan yang terlibat di sektor perikanan supaya bisa mengelola dengan manajemen yang profesional.
7. Hasil tangkapan ikan dari level pengusahaan perikanan sampai kepada nelayan dikumpulkan melalui asosiasi dan dipasarkan dalam bentuk koperasi. Koperasi akan dibangun setiap pasar tradisional yang ada di kota, kota kabupaten, kecamatan, nagari, desa atau kelurahan. Sehingga sistem penjualan ikan tidak dimonopoli oleh pengijon supaya ikan hasil tangkapan memiliki nilai yang layak setiap harinya. Hal ini akan menterciptakan harga penjualan dari jenis dan berat ikan yang sama serta di hari yang sama dan d ipasar yang berbeda tetapi harga ikan sama.
Bagi nelayan yang mempunyai kapal dan alat penangkapan, tidak ada lagi alasan di hari tertentu tidak dapat melaut karena tidak sanggup membeli bahan bakar minyak (BBM) karena asosiasi menyediakan seluruh keperluan melaut kepada nelayan, sedangkan penerimaan nelayan dapat diberikan oleh asosiasi perbulan setelah dihitung dari hasil tangkapan yang dikelola oleh asosiasi dengan biaya yang telah dipakai dari nelayan.

- SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) YANG TIDAK TERAKOMODASI i
- RENCANA DAERAH BASIS KELAUTAN DAN PERIKANAN
- Strategi Pembangunan Provinsi Sumatera Barat
- Kesimpulan Program Pembangunan Disetiap Sektor
- Produksi Rumput Laut Indonesia Siap Menjadi Nomor 1
Isi Komentar :



