Jumat, 04 November 2011 - 15:53:06 WIBGeografis dan Potensi Perairan Sumatera Barat by Yefri Wangsa For Gubernur Sumatera Barat 2015-2020
Kategori: Yefriwangsa - Dibaca: 66 kali

Provinsi Sumatera Barat terletak
di pantai barat bagian tengah pulau Sumatera. Secara geografis daerah ini
berada pada 0º 54' Lintang Utara dan 3º 30' Lintang Selatan dengan 98º 36' dan
101º 53' Bujur Timur. Posisi ini berada di daerah tropis dan dilalui oleh garis
katulistiwa. Luas wilayah Sumatera Barat kurang lebih 42.297² meter. Dari luas
wilayah itu, 85% terdiri dari hutan belantara dan tanah berkemiringan tinggi
sehingga sekitar 15% daratannya yang dapat diusahakan sebagai areal pertanian,
pemukiman penduduk dalam bentuk kota, nagari, desa, jorong, dan dusun. Karena
keterbatasan areal inilah yang mendorong masyarakat Sumatera Barat banyak
menggeluti dunia perdagangan dan usaha lainnya.
Secara alami Sumatera Barat adalah daerah pegunungan Bukit Barisan dan daratan
pantai di tambah gugusan kepulauan Mentawai. Tanahnya bergunung/berbukit dan
merupakan kawasan vulkanik daratan tinggi, sehingga subur untuk daerah
pertanian. Di samping itu daerah ini memiliki sejumlah danau, lembah, dan
dialiri banyak sungai. Keadaan ini merupakan perpaduan yang harmonis antara
bukit dan lembah yang terdapat pada gugusan Bukit Penduduk terbanyak provinsi
Sumatera Barat adalah etnis Minang atau yang lebih dikenal suku Minangkabau.
Kata Minangkabu tidak identik dengan istilah Sumatera Barat atau
sebaliknya. Akan tetapi bila diamati dalam perkembangan sejarah dan wilayah
geografis, Minangkabau tidak hanya meliputi wilayah Sumatera Barat sekarang.
Akan tetapi sebagian wilayah provinsi Riau dan provinsi Jambi saat ini atau
yang lebih tepatnya daerah yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat yang
dulunya termasuk wilayah Minangkabau atau Sumatera Tengah. Sedangkan kepulauan
Mentawai yang merupakan bagian administratif provinsi Sumatera Barat, tidak
termasuk ke dalam wilayah alam Minangkabau. Barisan serta daratan rendah yang
relatif sempit terhampar di belahan barat.
Dengan demikian, istilah Minangkabau mengandung pengertian kebudayaan di
samping makna geografis. Maka ada istilah suku bangsa Minangkabau dan
kebudayaan Minangkabau, tetapi tidak ada istilah suku bangsa Sumatera Barat
maupun kebudayaan Sumatera Barat. Sehingga orang Minangkabau menyebut dirinya
etnis Minangkabau, bukan etnis Sumatera Barat.
Adat dan kebudayaan Minangkabau selalu membuka diri terhadap perubahan dan
perkembangan ilmu/teknologi serta perubahan peradaban masyarakat. Hal itu
tergambar dari pepatah adat Minangkabau “Sakali aie gadang, sakali tapian
baraliah” sekali air besar, sekali tepian berubah. Perubahan yang
muncul tidaklah bersifat radikal atau melenyapkan konsep yang sudah ada, namun
lebih mengarah terhadap penyempurnaannya. Sekecil apapun penyempurnaan yang
terjadi akan menimbulkan riak dalam masyarakat yang berkemungkinan bermuara
pada berbagai konflik yang dapat merugikan kepada semua pihak.
Di masa kejayaannya, terutama di era sebelum kemerdekaan, Sumatera Barat
merupakan daerah yang banyak melahirkan sastrawan, pujangga, dan pemikir yang
handal. Sehingga tergores dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yang sangat
berjasa dalam mengkonsolidasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,
bahkan berperan besar sebagai diplomatik ulung untuk memperjuangan kemerdekaan
Indonesia di meja runding dari cengkraman penjajah.
Berdasarkan latar belakang di atas maka diharapkan kepada generasi muda untuk
tampil sebagai pemikir yang handal untuk kemajuan Sumatera Barat dimasa yang
akan datang. Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi maka paradigma
berpikir yang handal untuk kemajuan perekonomian Sumatera Barat diharapkan
lahir pemimpin dari kalangan wiraswasta (pengusaha) yang mampu mempublikasikan
potensi alam Sumatera Barat dari wilayah laut, kawasan pesisir sampai wilayah
daratan kepada calon investor baik domestik maupun mancanegara untuk
berinvestasi ke daerah Sumatera Barat. Sehingga dapat menata kembali
infrastruktur yang telah berantakan akibat bencana alam gempa. Pemimpin dinamis
yang sesuai dengan harapan masyarakat Sumatera Barat tidak cukup disampingi
seorang pakar, tetapi pemimpin yang telah teruji dalam mengerakkan perekonomian
dan identik dengan pelaku usaha.
_Yefri Wangsa_

- Yefri Wangsa
- Produksi Rumput Laut Indonesia Siap Menjadi Nomor 1
- Pariwisata Sumbar Terpukul Karena Gempa
- KIARA Tuntut Reorientasi Kebijakan Perikanan
- Pariwisata Sumbar Sumbang Rp 7,3 T
Isi Komentar :



