PENYEBAB PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN SUMATERA BARAT LESU
Diposting tanggal: 21 November 2011
Sektor perindustrian dan perdagangan Sumatera Barat telah tumbuh dari
dulu sampai sekarang. Dimulai dari industri berskala usaha kecil dan
menengah (UKM) yang didominasi oleh kegiatan industri rumah tangga
(home industry) berupa kerajinan sulam, bordir, konveksi, kerajinan
perak, berbagai macam industri makanan khas Sumatera Barat yang juga
menunjang industri pariwisata. Kegiatan ini telah memperkenalkan
kepiawaian masyarakat Sumatera Barat dalam menciptakan produk dan telah
dirasakan manfaatnya oleh orang lain baik yang dipasarkan di pasaran
lokal, domestik bahkan sampai mancanegara. Tetapi produk tersebut tidak
mengalami kemajuan yang signifikan baik volume produksi maupun tingkat
pemasaran sehingga terkesan biasa-biasa saja.
Jika hasil produksi dikemas dalam ragam model dan bentuk yang lebih apik
lalu dipromosikan secara profesional dengan membangun infrastruktur
yang memadai, ketersedian sumber daya manusia (SDM) yang cukup mandiri,
ketersedian bahan baku olahan serta memakai tekhnologi penyimpan barang
(mesin pendingin) sebelum dipasarkan agar memiliki daya saing baik
kualitas maupun kuantitas yang tinggi tentu akan lebih membangun suatu
bentuk perindustrian yang lebih tangguh. Di samping itu perlu memakai
tekhnologi informatika sebagai sarana promosi termasuk menggunakan
berbagai media lain seperti elektronik dan cetak secara kontinyu yang
berstandar internasional.
Kenyataannya sampai saat ini masih ada hal-hal yang biasanya selalu
menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi di sektor peridustrian di Sumatera
Barat sebagai berikut:
- Ketersedian dan kualitas infrastruktur yang tidak memadai baik fisik maupun nonfisik.
- Pasokan energi, seperti bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan gas
sering mengalami keterlambatan dan ketersedian yang terbatas. Seharusnya
pasokan energi yang dimonopoli oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
tersebut harus sejalan dengan kebijakan energi nasional sehingga
kebutuhan perindustrian tidak terputus.
- Kebijakan eksport energi kurang mempertimbangkan kebutuhan di dalam negeri dan pendistribusian kurang
profesional ke daerah.
- Konversi energi tidak disertai dengan insentif dan tidak didukung oleh
standar serta pedoman yang kurang jelas. Perbedaan persepsi
antarsektor. Sebagai contoh adalah
pertimbangan lingkungan. Karena dianggap berbahaya bagi lingkungan,
eksplorasi batu bara salah satu sumber energi alternatif itu pun
memerlukan proses perizinan yang sulit dan berbelit.
- Kelancaran arus barang dari pusat industri ke pelabuhan Teluk Bayur
sering mengalami hambatan terutama akses jalan yang tidak memadai,
oknum/aparat selalu melakukan pemeriksaan di luar ketentuan
perundang-undangan yang berlaku (melakukan pungli), ditambah kapasitas
pelabuhan Teluk Bayur saat ini tidak dapat mendukung kelancaran arus
barang baik barang masuk maupun barang yang keluar.
- Kualitas birokrasi perlu ditata dan direformasi karena keterlambatan
arus barang sebagian besar disebabkan kinerja birokrasi belum optimal
dan kurang profesional.
- Aturan ketenagakerjaan belum mendukung perkembangan industri secara
komprehensif, sehingga peningkatan industri dalam memenuhi permintaan
hasil produksi belum maksimal.
- Suku bunga perbankan masih tinggi sehingga perkreditan kurang diminati
oleh pelaku industri dan sering terjadinya kredit macet.
- Di bidang pemasaran hasil produksi industri tidak menguasi pangsa
pasar dan banyaknya peredaran barang impor ilegal dari mancanegara.
Industri yang dikelola dengan skala kecil (home industry) perlu
mendapatkan perhatian
dari instansi yang berwenang karena telah terbukti menjadikan kemapanan
ekonomi masyarakat yang terimplemantasi di rumah tangga. Seperti, tidak
berpengaruh terhapap inflasi keuangan, moneter dan sejenisnya.
Untuk mencapai target yang maksimal, mewujudkan kemajuan industri rumah tangga diperlukan:
- Kelompok industri kecil yang memanfaatkan bahan baku tekstil, makanan
khas, dikelola secara kreatif dan berbasis budaya Minangkabau.
- Sinergi antardepartemen meliputi departemen perindustrian,
perdagangan, pertanian dan keuangan sampai ke tingkat dinas provinsi
menjadi pilar utama dalam merealisasikan tingkat
pertumbuhan industri yang ditargetkan.
- Menigkatkan pengadaaan/rekayasa mesin sebagai penggerak bertekhnologi
hemat energi dan mampu mendesain hasil produksi berkualitas unggul dalam
jumlah banyak.
- Pendidikan dan pelatihan bagi calon tenaga kerja yang sudah direkrut
untuk dipekerjakan di sektor ini serta peningkatan keterampilan, bobot
atau etos kerja bagi tenaga kerja yang telah bekerja supaya lebih mapan
dan bertanggungjawab. Maka pembayaran gaji dan uang intensif yang
memadai adalah tugas dari pengusaha.
- Untuk mencapai target produksi yang maksimal, seharusnya pengusaha
industri menerapkan sistem kerja borongan dengan tetap memperhatikan
kualitas dan kuantitas sesuai dengan
permintaan pasar.
- Untuk mencapai pasar yang lebih luas, sangat perlu mempromosikan hasil
produksi dengan memakai teknologi informatika secara luas dan terukur.
Pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Perindustrian Sumatera Barat
sangat perlu menginventarisir serta memfasilitasi pelaku industri kecil
menengah yang ada di seluruh Sumater Barat supaya bisa melakukan
terobosan dan inovasi baru serta mengetahui ragam, volume, dan kebutuhan
pasar. Jika hal tersebut telah dilakukan maka muncul sinergi dengan
masyarakat penyedia bahan baku karena kepastian untuk menjual ke
industri tersebut sangat terbuka lebar.
Penulis : Yefri Wangsa
Diposting tanggal: 21 November 2011
Sektor perindustrian dan perdagangan Sumatera Barat telah tumbuh dari
dulu sampai sekarang. Dimulai dari industri berskala usaha kecil dan
menengah (UKM) yang didominasi oleh kegiatan industri rumah tangga
(home industry) berupa kerajinan sulam, bordir, konveksi, kerajinan
perak, berbagai macam industri makanan khas Sumatera Barat yang juga
menunjang industri pariwisata. Kegiatan ini telah memperkenalkan
kepiawaian masyarakat Sumatera Barat dalam menciptakan produk dan telah
dirasakan manfaatnya oleh orang lain baik yang dipasarkan di pasaran
lokal, domestik bahkan sampai mancanegara. Tetapi produk tersebut tidak
mengalami kemajuan yang signifikan baik volume produksi maupun tingkat
pemasaran sehingga terkesan biasa-biasa saja.
Jika hasil produksi dikemas dalam ragam model dan bentuk yang lebih apik
lalu dipromosikan secara profesional dengan membangun infrastruktur
yang memadai, ketersedian sumber daya manusia (SDM) yang cukup mandiri,
ketersedian bahan baku olahan serta memakai tekhnologi penyimpan barang
(mesin pendingin) sebelum dipasarkan agar memiliki daya saing baik
kualitas maupun kuantitas yang tinggi tentu akan lebih membangun suatu
bentuk perindustrian yang lebih tangguh. Di samping itu perlu memakai
tekhnologi informatika sebagai sarana promosi termasuk menggunakan
berbagai media lain seperti elektronik dan cetak secara kontinyu yang
berstandar internasional.
Kenyataannya sampai saat ini masih ada hal-hal yang biasanya selalu
menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi di sektor peridustrian di Sumatera
Barat sebagai berikut:
- Ketersedian dan kualitas infrastruktur yang tidak memadai baik fisik maupun nonfisik.
- Pasokan energi, seperti bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan gas
sering mengalami keterlambatan dan ketersedian yang terbatas. Seharusnya
pasokan energi yang dimonopoli oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
tersebut harus sejalan dengan kebijakan energi nasional sehingga
kebutuhan perindustrian tidak terputus.
- Kebijakan eksport energi kurang mempertimbangkan kebutuhan di dalam negeri dan pendistribusian kurang
profesional ke daerah.
- Konversi energi tidak disertai dengan insentif dan tidak didukung oleh
standar serta pedoman yang kurang jelas. Perbedaan persepsi
antarsektor. Sebagai contoh adalah
pertimbangan lingkungan. Karena dianggap berbahaya bagi lingkungan,
eksplorasi batu bara salah satu sumber energi alternatif itu pun
memerlukan proses perizinan yang sulit dan berbelit.
- Kelancaran arus barang dari pusat industri ke pelabuhan Teluk Bayur
sering mengalami hambatan terutama akses jalan yang tidak memadai,
oknum/aparat selalu melakukan pemeriksaan di luar ketentuan
perundang-undangan yang berlaku (melakukan pungli), ditambah kapasitas
pelabuhan Teluk Bayur saat ini tidak dapat mendukung kelancaran arus
barang baik barang masuk maupun barang yang keluar.
- Kualitas birokrasi perlu ditata dan direformasi karena keterlambatan
arus barang sebagian besar disebabkan kinerja birokrasi belum optimal
dan kurang profesional.
- Aturan ketenagakerjaan belum mendukung perkembangan industri secara
komprehensif, sehingga peningkatan industri dalam memenuhi permintaan
hasil produksi belum maksimal.
- Suku bunga perbankan masih tinggi sehingga perkreditan kurang diminati
oleh pelaku industri dan sering terjadinya kredit macet.
- Di bidang pemasaran hasil produksi industri tidak menguasi pangsa
pasar dan banyaknya peredaran barang impor ilegal dari mancanegara.
Industri yang dikelola dengan skala kecil (home industry) perlu
mendapatkan perhatian
dari instansi yang berwenang karena telah terbukti menjadikan kemapanan
ekonomi masyarakat yang terimplemantasi di rumah tangga. Seperti, tidak
berpengaruh terhapap inflasi keuangan, moneter dan sejenisnya.
Untuk mencapai target yang maksimal, mewujudkan kemajuan industri rumah tangga diperlukan:
- Kelompok industri kecil yang memanfaatkan bahan baku tekstil, makanan
khas, dikelola secara kreatif dan berbasis budaya Minangkabau.
- Sinergi antardepartemen meliputi departemen perindustrian,
perdagangan, pertanian dan keuangan sampai ke tingkat dinas provinsi
menjadi pilar utama dalam merealisasikan tingkat
pertumbuhan industri yang ditargetkan.
- Menigkatkan pengadaaan/rekayasa mesin sebagai penggerak bertekhnologi
hemat energi dan mampu mendesain hasil produksi berkualitas unggul dalam
jumlah banyak.
- Pendidikan dan pelatihan bagi calon tenaga kerja yang sudah direkrut
untuk dipekerjakan di sektor ini serta peningkatan keterampilan, bobot
atau etos kerja bagi tenaga kerja yang telah bekerja supaya lebih mapan
dan bertanggungjawab. Maka pembayaran gaji dan uang intensif yang
memadai adalah tugas dari pengusaha.
- Untuk mencapai target produksi yang maksimal, seharusnya pengusaha
industri menerapkan sistem kerja borongan dengan tetap memperhatikan
kualitas dan kuantitas sesuai dengan
permintaan pasar.
- Untuk mencapai pasar yang lebih luas, sangat perlu mempromosikan hasil
produksi dengan memakai teknologi informatika secara luas dan terukur.
Pihak pemerintah, dalam hal ini Dinas Perindustrian Sumatera Barat
sangat perlu menginventarisir serta memfasilitasi pelaku industri kecil
menengah yang ada di seluruh Sumater Barat supaya bisa melakukan
terobosan dan inovasi baru serta mengetahui ragam, volume, dan kebutuhan
pasar. Jika hal tersebut telah dilakukan maka muncul sinergi dengan
masyarakat penyedia bahan baku karena kepastian untuk menjual ke
industri tersebut sangat terbuka lebar.
Penulis : Yefri Wangsa



