SEKTOR PERTANIAN SUMATERA BARAT BELUM DIGARAP OPTIMAL
Diposting tanggal: 21 November 2011
Usaha sektor pertanian sudah dikenal dari nenek moyang Minangkabau yang
bermula dari pengenalan singkong sebagai makanan pokok. Daerah Sumatera
Barat dengan topografi daratan perbukitan, pegunungan, lembah, daratan
rendah sampai ke daerah pesisir pantai. Singkong dapat ditanam hampir
disemua lahan daerah ini. Untuk mengkonsumsi singkong cukup direbus dan
dibakar. Cara bertanam singkong merupakan kebiasaan bagi setiap
keluarga. Sejalan perkembangan zaman suku Minangkabau mengenal cara
bercocok tanam dengan menggarap sawah yang dialiri air, sawah tadah
hujan maupun padi yang ditanam di daerah perbukitan yang dikenal dengan
ladang padi.
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi seiring dengan pertumbuhan
penduduk sehingga lahan yang menjadi garapan hampir tiap tahun
bertambah. Hal ini disebabkan kebutuhan bahan makanan pokok terutama
padi yang diolah menjadi beras. Sebelum tahun 70-an di Sumatera Barat
cara bercocok tanam sangat unik sekali, karena bibit padi yang menjadi
benih disemai di tanah yang kering dan setelah berumur 2-3 bulan barulah
benih dipindahkan ke sawah. Benih yang ditanam disawah, hanya memakai
pupuk alami dari kotoran ternak seperti sapi dan kerbau. Dari mulai
benih ditanam sampai penen, memakan waktu 9 bulan sehingga mulai dari
lahan diolah sampai panen lebih kurang satu tahun. Cara panen pun
tergolong unik, karena padi yang telah menguning tidak langsung diolah,
tetapi dituai dengan pisau kemudian dimasukkan kedalam bakul untuk
dibawa pulang, sesampainya di rumah barulah padi dipisah dari
tangkainya. Tetapi ada juga cara lain dengan memotong padi dari pangkal
lalu ditumpuk di satu tempat yang terkenal dengan ungguk padi, setelah
seminggu barulah padi dipisahkan dari tangkainya dengan menggunakan
kaki. Sedangkan pengolahan lahan pun jauh dari teknologi modern, karena
sawah diolah dengan cangkul dan dibajak memakai tenaga kerbau atau sapi.
Hampir setiap anggota keluarga ikut terlibat langsung untuk mengolah
sawah. Sehingga rasa kebersamaan dalam satu keluarga terjalin dengan
harmonis. Hubungan kekeluargaan antar keluarga sangat dekat karen
persamaan profesi sebagai petani dan sering melakukan kongsi yang
diistilahkan lambiari yang artinya mengerjakan sawah secara bergiliran,
dimulai dari pengolahan sampai masa panen.
Hubungan harmonis yang telah terjalin dari kebersamaan mengolah sawah
sampai hubungan dalam kemasyarakatan maka ada istilah saciok bak ayam
sadanciang bak basi, barek samo dipikua ringan samo dijinjiang sehingga
tercipta hidup bergotongroyong. Setelah musim panen selesai, masyarakat
Minangkabau biasanya melakukan berbagai hajatan, seperti pesta
perkawinan, pengangkatan Datuak Pangulu (manjamu) dan acara seremonial
lainya. Begitulah kebiasaan dan pergaulan masyarakat Minangkabau
sehingga terkenal dengan ramah tamah, berbudi dan saling
bantu-membantu.Pada era 80-an, system pengolahan sawah mulai mengalami
kemajuan baik dari cara menyemai benih yang biasanya dilakukan di lahan
yang kering menjadi benih disemai di sawah. Perbedaannya adalah dari
umur benih, tua sampai 3 bulan, kalau disawah hanya 20-25 hari, benih
siap untuk ditanam disawah. Pada era ini, petani telah mengenal pupuk
buatan yang disosialisasikan melalui penyuluh-penyuluh pertanian. Sampai
bibit padi pun ditukar menjadi bibit unggul dari segi umur maupun
peningkatan hasil panen. Walaupun pada saat itu, banyak mendapat
tantangan dari petani tentang perubahan yang disosialisasikan. Tetapi
tidaklah terlalu lama memahani sebuah perubahan, karena tatanan
kehidupan masyarakat tidak hanya dipimpin oleh kepala keluarga tetapi
peran ninik mamak dalam nagari, ulama dan tokoh masyarakat termasuk
kelompok yang sangat menentukan berbagai aspek kehidupan. Kelompok
tersebut yang perlu didekati oleh siapapun yang mau membawa perubahan
kepada masyarakat luas.
PERTANIAN ORGANIK PROSPEK CERAH YANG MENJAJIKAN
Pengembangan produk pertanian organik punya prospek pengembangan yang
sangat baik di Sumatera Barat. Tingkat kesadaran masyarakat yang semakin
tinggi terhadap produk sehat seiring dengan pertambahan penduduk
menyebabkan potensi pasar produk organik terbuka luas. Besarnya
potensi Sumatera Barat dalam pengembangan pertanian organik didukung
oleh kondisi lahan pertanian Sumatera Barat yang sangat cocok dengan
sistim pertanian organik. Hasil survey Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Sumatera Barat bekerjasama dengan PT AFTA Agro Consultant mendapatkan
banyak daerah daerah yang cocok untuk pengembangan sistim pertanian yang
ramah lingkungan ini. Lima daerah yang paling berpotensi adalah
Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kabupaten 50
Kota. Diperta Sumbar juga telah menetapkan kawasan-kawasan
pengembangan pertanian organik di daerah tersebut. Kawasan itu adalah :
Kecamatan IV Angkek, Canduang, Banuhampu, IV Koto, Baso dan Kamang
Magek di Kabupaten Agam; Kecamatan Gunuang Talang, Payuang Sakaki dan
Kecamatan Lembah Gumanti di Kabupaten Solok; Kecamatan X Koto,
Batipuh, Lintau Buo Utara dan Rambatan di Kabupaten Tanah Datar:
Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Luhak, Payakumbuah dan Guguak di
Kabupaten 50 Kota, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman; Kecamatan
Padang Panjang Barat dan Padang Panjang Timur di Kota Padang Panjang;
Kecamatan Payakukumbuh Barat dan Payakumbuah Timur di Kota Payakumbuh
dan Kecamatan Pauh di Kota Padang.
Pada daerah tersebut dapat dikembangkan tanaman pangan organik dengan
berbagai macam jenis komoditi. Peluang pengembangan yang bisa diusahakan
antara lain adalah pengembangan dari areal yang sudah ada dan membuka
lahan baru untuk komoditi pertanian organik. Daerah ini juga bisa
dikembangkan berbagai produk olahan dengan memanfaatkan sumberdaya yang
ada yang diawali dengan pelatihan agar pemanfaatan teknologi pengolahan
dapat diperoleh semaksimal mungkin sehingga produk yang dihasilkan
bermutu baik dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Untuk berinvestasi
dalam pengembangan pertanian organik ini juga sangat menguntungkan.
Hasil analisa pada komoditi sayuran (15 jenis komoditi sayuran),
dengan investasi sebesar 140 juta rupiah pada tahun pertama, maka
pada tahun keempat investor sudah mendapatkan keuntungan kotor
sebesar 114 juta rupiah.
Tingginya keuntungan pada tahun ke empat tersebut dikarenakan,
investasi yang besar hanya terjadi pada tahun pertama, sementara pada
tahun-tahun berikutnya invetasinya tetap.
Analisa Investasi Pengembangan Pertanian Organik
- Pengeluaran Tahun I 140.000.000, Tahun II 105.000.000, Tahun III 105.000.000, Tahun IV 105.000.000
- Pemasukan Tahun I 216.000.000, Tahun II 220.000.000, Tahun III 216.000.000, Tahun IV 220.000.000
- Keuntungan Kotor Tahun I 76.000.000, Tahun II 85.000.000, Tahun III 111.000.000, Tahun IV 114.000.000
Keterangan :
Pemasukan berasal dari penjualan bermacam sayuran hasil tumpangsari dan penjualan kambing.
Hasil pada tahun kedua dan seterusnya akan bertambah dengan adanya penambahan jumlah kambing rata-rata 5 ekor pertahun.
(DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN)
Karena disamping berpengaruh dalam masyarakat juga pendamping pemerintah
dari semua tingakatan dimulai dari tingkat provinsi sampai tingkat
nagari.
Swasembada Pangan
Sektor pertanian telah terbukti dalam kemapanan perekonomian kerakyatan
disamping membuka lapangan pekerjaan yang luas dan juga merupakan tulang
punggung mata pencaharian petani Sumatera Barat. Lahan pertanian yag
dialiri oleh pengairan yang cukup dari sistem irigasi memadai sehingga
dalam 1 tahun bisa melakukan panen 2,5 kali, artinya satu kali panen
dari pengolahan lahan memakan waktu selama 4 bulan. Tekhnologi
pengolahan lahan dari sistem mencangkul sampai mempergunakan mesin
garapan telah mampu mempercepat proses penggarapan sawah tetapi yang
perlu di tingkatkan adalah kualitas pupuk, mutu bibit, dan pembasmi hama
padi.
Difersifikasi Lahan Petanian
Lahan pertanian sebagian besar hanya dimanfaatkan untuk menanam padi,
sehingga kesuburan tanah tidak mengalami perubahan, karena biokimia yang
terkandung dalam tanah tidak terjadi penambahan zat yang bisa
menyuburkan tanah. Bilamana para petani bisa memprediksi pangsa pasar
dimusim panen berikutnya dan mengetahui hasil pertanian yang paling
menguntungkan maka petani tidak hanya menanam padi, tetapi juga
mengganti dengan tanaman lain seperti padi diganti dengan tanaman
palawija. Untuk melakukan difersifikasi lahan pertanian, seharusnya
petani dapat membagi lahan, sebagian ditanam padi dan yang lain ditanam
sayur mayur serta kolam ikan. Sehingga pada lahan yang sama petani dapat
menghasilkan padi, sayur, dan ikan.
Membuka Lahan Baru
Jika tekhnologi pengolahan lahan, sistem irigasi atau pengairan yang
cukup, mendapatkan bibit unggul, pupuk yang bermutu serta pemberantas
hama padi dapat diandalkan maka lahan pertanian baru sudah saatnya
dibuka. Ada semacam kekhawatiran bagi para petani dengan harga panen
yang tidak stabil, sering terjadi pada saat musim harga gabah rendah,
sehingga petani mendapatkan keuntungan tidak terlalu besar. Maka peran
pemerintah Sumatera Barat yang akan datang sangat perlu
mensosialisasikan tekhnologi penyimpanan hasil pertanian yaitu mesin
pendingin. Karena hasil pertanian yang berlebihan dengan harga murah
maka petani tidak harus menjual hasil pertaniannya seketika tetapi bisa
menyimpan sampai harga stabil. Lahan pertanian produktif di Sumatera
Barat baru tergarap sekitar 60% sedangkan lahan tadah hujan yang
tergarap sekitar 30% disusul lahan gambut baru sekitar 10%. Kondisi ini
sangat memungkinkan berinvestasi di sektor pertanian.
Berikut data dari Pemda dari Sumatera Barat periode 2005-2010
Jumlah produksi Tanaman pangan di Sumatera Barat Tahun 2007*
1. Padi - 1.938.120 ton
2. Palawija - 338.915 ton
3. Sayur-sayuran - 305.151 ton
4. Buah-buahan - 328.064 ton
Prioritas Penanaman Modal – I*
1. Lapangan Usaha - Budidaya Sayuran Daratan Tinggi (cabai, Tomat, Wortel, Kentang dan Bunga Kol)
2. Lokasi - Kec. Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, dan Gunung Talang (Jarak ke kota Padang 70km)
3. Faktor Penunjang - Kondisi Jalan (Aspal) , Status Tanah (Tanah
Ulayat), Pelabuhan Laut (Teluk Bayur, jarak ke lokasi 65km), Pelabuhan
Udara (BIM, jarak ke lokasi 95km) , Terminal Angkutan Darat (TRB 85km)
, Lisrik dan Komunikasi (Tersedia)
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 1.671,32 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6
bulan / sewa (semusim), Bahan Baku PenolongBibit, Pupuk dan Pestisida,
Sumber AirTersedia, Status ProyekNon Fasilitas, PemasaranLokal dan Luar
Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
Prioritas Penanaman Modal – II*
1. Lapangan Usaha Budidaya Sayuran Daratan Tinggi, (cabai, Tomat, Wortel, entang dan Bunga Kol)
2. Lokasi Kabupaten Solok, Kec. Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, dan Gunung Talang (Jarak ke kota Padang 70km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 65km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 95km, Terminal Angkutan Darat TRB 85km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum
Provinsi), Luas Lahan Siap Usaha 1.671,32 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,-
/ Ha / 6 bulan / sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan
Pestisida, Sumber Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
Prioritas Penanaman Modal – III*
1. Komoditas Sayuran Daratan Tinggi
2. Lokasi Kecamatan X Koto, Batipuh dan Salimpaung (Jarak ke kota Padang 80km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 87km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 72km, Terminal Angkutan Darat TRB 80km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 1.953 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6 bulan
/ sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan Pestisida,
Sumber Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang,
Prioritas Penanaman Modal – IV*
1. Komoditas Sayuran Daratan Tinggi
2. Lokasi Kabupaten Agam Kecamatan IV Koto, Sei Puar, IV Angkat Candung (Jarak ke kota Padang 115km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 125km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 100km, Terminal Angkutan Darat TRB 115km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 975 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6 bulan /
sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan Pestisida, Sumber
Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
7. Catatan Sudah ada buku Profil Proyek Bidang Usaha ini (Profil Proyek Bidang Usaha Unggulan)
Data-data yang bersumber dari Pemda Sumatera Barat di atas, dapat diketahui:
Data-data terkesan kurang akurat. Tidak dijelaskan solusi peningkatan
lahan, bibit, panen dan pangsa pasar yang jelas. Belum memakai teknologi
maju. Peningkatan hasil panen dan pencapaian harga yang tinggi dengan
mutu terjaga sangat memungkinkan kenaikan upah buruh dari rata-rata Rp.
880.000,- per bulan menjadi Rp. 1.500.000,- per bulan setiap buruh yang
bekerja di sektor ini. Kenaikan upah buruh sekitar 73%, maka peningkatan
jumlah panen perlu dipicu dengan menerapkan penambahan lahan, teknologi
pengolahan produksi serta pemasaran.
Penulis : Yefri Wangsa
Diposting tanggal: 21 November 2011
Usaha sektor pertanian sudah dikenal dari nenek moyang Minangkabau yang
bermula dari pengenalan singkong sebagai makanan pokok. Daerah Sumatera
Barat dengan topografi daratan perbukitan, pegunungan, lembah, daratan
rendah sampai ke daerah pesisir pantai. Singkong dapat ditanam hampir
disemua lahan daerah ini. Untuk mengkonsumsi singkong cukup direbus dan
dibakar. Cara bertanam singkong merupakan kebiasaan bagi setiap
keluarga. Sejalan perkembangan zaman suku Minangkabau mengenal cara
bercocok tanam dengan menggarap sawah yang dialiri air, sawah tadah
hujan maupun padi yang ditanam di daerah perbukitan yang dikenal dengan
ladang padi.
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi seiring dengan pertumbuhan
penduduk sehingga lahan yang menjadi garapan hampir tiap tahun
bertambah. Hal ini disebabkan kebutuhan bahan makanan pokok terutama
padi yang diolah menjadi beras. Sebelum tahun 70-an di Sumatera Barat
cara bercocok tanam sangat unik sekali, karena bibit padi yang menjadi
benih disemai di tanah yang kering dan setelah berumur 2-3 bulan barulah
benih dipindahkan ke sawah. Benih yang ditanam disawah, hanya memakai
pupuk alami dari kotoran ternak seperti sapi dan kerbau. Dari mulai
benih ditanam sampai penen, memakan waktu 9 bulan sehingga mulai dari
lahan diolah sampai panen lebih kurang satu tahun. Cara panen pun
tergolong unik, karena padi yang telah menguning tidak langsung diolah,
tetapi dituai dengan pisau kemudian dimasukkan kedalam bakul untuk
dibawa pulang, sesampainya di rumah barulah padi dipisah dari
tangkainya. Tetapi ada juga cara lain dengan memotong padi dari pangkal
lalu ditumpuk di satu tempat yang terkenal dengan ungguk padi, setelah
seminggu barulah padi dipisahkan dari tangkainya dengan menggunakan
kaki. Sedangkan pengolahan lahan pun jauh dari teknologi modern, karena
sawah diolah dengan cangkul dan dibajak memakai tenaga kerbau atau sapi.
Hampir setiap anggota keluarga ikut terlibat langsung untuk mengolah
sawah. Sehingga rasa kebersamaan dalam satu keluarga terjalin dengan
harmonis. Hubungan kekeluargaan antar keluarga sangat dekat karen
persamaan profesi sebagai petani dan sering melakukan kongsi yang
diistilahkan lambiari yang artinya mengerjakan sawah secara bergiliran,
dimulai dari pengolahan sampai masa panen.
Hubungan harmonis yang telah terjalin dari kebersamaan mengolah sawah
sampai hubungan dalam kemasyarakatan maka ada istilah saciok bak ayam
sadanciang bak basi, barek samo dipikua ringan samo dijinjiang sehingga
tercipta hidup bergotongroyong. Setelah musim panen selesai, masyarakat
Minangkabau biasanya melakukan berbagai hajatan, seperti pesta
perkawinan, pengangkatan Datuak Pangulu (manjamu) dan acara seremonial
lainya. Begitulah kebiasaan dan pergaulan masyarakat Minangkabau
sehingga terkenal dengan ramah tamah, berbudi dan saling
bantu-membantu.Pada era 80-an, system pengolahan sawah mulai mengalami
kemajuan baik dari cara menyemai benih yang biasanya dilakukan di lahan
yang kering menjadi benih disemai di sawah. Perbedaannya adalah dari
umur benih, tua sampai 3 bulan, kalau disawah hanya 20-25 hari, benih
siap untuk ditanam disawah. Pada era ini, petani telah mengenal pupuk
buatan yang disosialisasikan melalui penyuluh-penyuluh pertanian. Sampai
bibit padi pun ditukar menjadi bibit unggul dari segi umur maupun
peningkatan hasil panen. Walaupun pada saat itu, banyak mendapat
tantangan dari petani tentang perubahan yang disosialisasikan. Tetapi
tidaklah terlalu lama memahani sebuah perubahan, karena tatanan
kehidupan masyarakat tidak hanya dipimpin oleh kepala keluarga tetapi
peran ninik mamak dalam nagari, ulama dan tokoh masyarakat termasuk
kelompok yang sangat menentukan berbagai aspek kehidupan. Kelompok
tersebut yang perlu didekati oleh siapapun yang mau membawa perubahan
kepada masyarakat luas.
PERTANIAN ORGANIK PROSPEK CERAH YANG MENJAJIKAN
Pengembangan produk pertanian organik punya prospek pengembangan yang
sangat baik di Sumatera Barat. Tingkat kesadaran masyarakat yang semakin
tinggi terhadap produk sehat seiring dengan pertambahan penduduk
menyebabkan potensi pasar produk organik terbuka luas. Besarnya
potensi Sumatera Barat dalam pengembangan pertanian organik didukung
oleh kondisi lahan pertanian Sumatera Barat yang sangat cocok dengan
sistim pertanian organik. Hasil survey Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Sumatera Barat bekerjasama dengan PT AFTA Agro Consultant mendapatkan
banyak daerah daerah yang cocok untuk pengembangan sistim pertanian yang
ramah lingkungan ini. Lima daerah yang paling berpotensi adalah
Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kabupaten 50
Kota. Diperta Sumbar juga telah menetapkan kawasan-kawasan
pengembangan pertanian organik di daerah tersebut. Kawasan itu adalah :
Kecamatan IV Angkek, Canduang, Banuhampu, IV Koto, Baso dan Kamang
Magek di Kabupaten Agam; Kecamatan Gunuang Talang, Payuang Sakaki dan
Kecamatan Lembah Gumanti di Kabupaten Solok; Kecamatan X Koto,
Batipuh, Lintau Buo Utara dan Rambatan di Kabupaten Tanah Datar:
Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Luhak, Payakumbuah dan Guguak di
Kabupaten 50 Kota, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman; Kecamatan
Padang Panjang Barat dan Padang Panjang Timur di Kota Padang Panjang;
Kecamatan Payakukumbuh Barat dan Payakumbuah Timur di Kota Payakumbuh
dan Kecamatan Pauh di Kota Padang.
Pada daerah tersebut dapat dikembangkan tanaman pangan organik dengan
berbagai macam jenis komoditi. Peluang pengembangan yang bisa diusahakan
antara lain adalah pengembangan dari areal yang sudah ada dan membuka
lahan baru untuk komoditi pertanian organik. Daerah ini juga bisa
dikembangkan berbagai produk olahan dengan memanfaatkan sumberdaya yang
ada yang diawali dengan pelatihan agar pemanfaatan teknologi pengolahan
dapat diperoleh semaksimal mungkin sehingga produk yang dihasilkan
bermutu baik dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Untuk berinvestasi
dalam pengembangan pertanian organik ini juga sangat menguntungkan.
Hasil analisa pada komoditi sayuran (15 jenis komoditi sayuran),
dengan investasi sebesar 140 juta rupiah pada tahun pertama, maka
pada tahun keempat investor sudah mendapatkan keuntungan kotor
sebesar 114 juta rupiah.
Tingginya keuntungan pada tahun ke empat tersebut dikarenakan,
investasi yang besar hanya terjadi pada tahun pertama, sementara pada
tahun-tahun berikutnya invetasinya tetap.
Analisa Investasi Pengembangan Pertanian Organik
- Pengeluaran Tahun I 140.000.000, Tahun II 105.000.000, Tahun III 105.000.000, Tahun IV 105.000.000
- Pemasukan Tahun I 216.000.000, Tahun II 220.000.000, Tahun III 216.000.000, Tahun IV 220.000.000
- Keuntungan Kotor Tahun I 76.000.000, Tahun II 85.000.000, Tahun III 111.000.000, Tahun IV 114.000.000
Keterangan :
Pemasukan berasal dari penjualan bermacam sayuran hasil tumpangsari dan penjualan kambing.
Hasil pada tahun kedua dan seterusnya akan bertambah dengan adanya penambahan jumlah kambing rata-rata 5 ekor pertahun.
(DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN)
Karena disamping berpengaruh dalam masyarakat juga pendamping pemerintah
dari semua tingakatan dimulai dari tingkat provinsi sampai tingkat
nagari.
Swasembada Pangan
Sektor pertanian telah terbukti dalam kemapanan perekonomian kerakyatan
disamping membuka lapangan pekerjaan yang luas dan juga merupakan tulang
punggung mata pencaharian petani Sumatera Barat. Lahan pertanian yag
dialiri oleh pengairan yang cukup dari sistem irigasi memadai sehingga
dalam 1 tahun bisa melakukan panen 2,5 kali, artinya satu kali panen
dari pengolahan lahan memakan waktu selama 4 bulan. Tekhnologi
pengolahan lahan dari sistem mencangkul sampai mempergunakan mesin
garapan telah mampu mempercepat proses penggarapan sawah tetapi yang
perlu di tingkatkan adalah kualitas pupuk, mutu bibit, dan pembasmi hama
padi.
Difersifikasi Lahan Petanian
Lahan pertanian sebagian besar hanya dimanfaatkan untuk menanam padi,
sehingga kesuburan tanah tidak mengalami perubahan, karena biokimia yang
terkandung dalam tanah tidak terjadi penambahan zat yang bisa
menyuburkan tanah. Bilamana para petani bisa memprediksi pangsa pasar
dimusim panen berikutnya dan mengetahui hasil pertanian yang paling
menguntungkan maka petani tidak hanya menanam padi, tetapi juga
mengganti dengan tanaman lain seperti padi diganti dengan tanaman
palawija. Untuk melakukan difersifikasi lahan pertanian, seharusnya
petani dapat membagi lahan, sebagian ditanam padi dan yang lain ditanam
sayur mayur serta kolam ikan. Sehingga pada lahan yang sama petani dapat
menghasilkan padi, sayur, dan ikan.
Membuka Lahan Baru
Jika tekhnologi pengolahan lahan, sistem irigasi atau pengairan yang
cukup, mendapatkan bibit unggul, pupuk yang bermutu serta pemberantas
hama padi dapat diandalkan maka lahan pertanian baru sudah saatnya
dibuka. Ada semacam kekhawatiran bagi para petani dengan harga panen
yang tidak stabil, sering terjadi pada saat musim harga gabah rendah,
sehingga petani mendapatkan keuntungan tidak terlalu besar. Maka peran
pemerintah Sumatera Barat yang akan datang sangat perlu
mensosialisasikan tekhnologi penyimpanan hasil pertanian yaitu mesin
pendingin. Karena hasil pertanian yang berlebihan dengan harga murah
maka petani tidak harus menjual hasil pertaniannya seketika tetapi bisa
menyimpan sampai harga stabil. Lahan pertanian produktif di Sumatera
Barat baru tergarap sekitar 60% sedangkan lahan tadah hujan yang
tergarap sekitar 30% disusul lahan gambut baru sekitar 10%. Kondisi ini
sangat memungkinkan berinvestasi di sektor pertanian.
Berikut data dari Pemda dari Sumatera Barat periode 2005-2010
Jumlah produksi Tanaman pangan di Sumatera Barat Tahun 2007*
1. Padi - 1.938.120 ton
2. Palawija - 338.915 ton
3. Sayur-sayuran - 305.151 ton
4. Buah-buahan - 328.064 ton
Prioritas Penanaman Modal – I*
1. Lapangan Usaha - Budidaya Sayuran Daratan Tinggi (cabai, Tomat, Wortel, Kentang dan Bunga Kol)
2. Lokasi - Kec. Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, dan Gunung Talang (Jarak ke kota Padang 70km)
3. Faktor Penunjang - Kondisi Jalan (Aspal) , Status Tanah (Tanah
Ulayat), Pelabuhan Laut (Teluk Bayur, jarak ke lokasi 65km), Pelabuhan
Udara (BIM, jarak ke lokasi 95km) , Terminal Angkutan Darat (TRB 85km)
, Lisrik dan Komunikasi (Tersedia)
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 1.671,32 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6
bulan / sewa (semusim), Bahan Baku PenolongBibit, Pupuk dan Pestisida,
Sumber AirTersedia, Status ProyekNon Fasilitas, PemasaranLokal dan Luar
Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
Prioritas Penanaman Modal – II*
1. Lapangan Usaha Budidaya Sayuran Daratan Tinggi, (cabai, Tomat, Wortel, entang dan Bunga Kol)
2. Lokasi Kabupaten Solok, Kec. Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, dan Gunung Talang (Jarak ke kota Padang 70km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 65km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 95km, Terminal Angkutan Darat TRB 85km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum
Provinsi), Luas Lahan Siap Usaha 1.671,32 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,-
/ Ha / 6 bulan / sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan
Pestisida, Sumber Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
Prioritas Penanaman Modal – III*
1. Komoditas Sayuran Daratan Tinggi
2. Lokasi Kecamatan X Koto, Batipuh dan Salimpaung (Jarak ke kota Padang 80km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 87km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 72km, Terminal Angkutan Darat TRB 80km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 1.953 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6 bulan
/ sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan Pestisida,
Sumber Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang,
Prioritas Penanaman Modal – IV*
1. Komoditas Sayuran Daratan Tinggi
2. Lokasi Kabupaten Agam Kecamatan IV Koto, Sei Puar, IV Angkat Candung (Jarak ke kota Padang 115km)
3. Faktor Penunjang Kondisi Jalan Aspal, Status Tanah Tanah Ulayat,
Pelabuhan Laut Teluk Bayur, jarak ke lokasi 125km, Pelabuhan Udara BIM,
jarak ke lokasi 100km, Terminal Angkutan Darat TRB 115km, Lisrik dan
Komunikasi Tersedia
4. Tenaga Kerja Upah Buruh Rp. 880.000 / bulan (Upah Minimum Provinsi),
Luas Lahan Siap Usaha 975 Ha, Harga Tanah Rp. 600.000,- / Ha / 6 bulan /
sewa (semusim), Bahan Baku Penolong Bibit, Pupuk dan Pestisida, Sumber
Air Tersedia,
Status Proyek Non Fasilitas, Pemasaran Lokal dan Luar Propinsi
5. Kapasitas Produksi Cabai 16 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Tomat
51,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Wortel 26,9 Ton / Ha / 6 bulan
(semusim), Kentang 22,2 Ton / Ha / 6 bulan (semusim), Bunga Kol 49,4
Ton / Ha / 6 bulan (semusim)
6. Perkiraan Investasi Rp. 49.740.000,- / Ha / 6 bulan / Cabe, Rp.
39.640.000,- / Ha / 6 bulan / Tomat, Rp. 25.100.000,- / Ha / 6 bulan /
Wortel, Rp. 47.590.000,- / Ha / 6 bulan / Kentang, Rp. 31.678.000,- /
Ha / 6 bulan / Bunga Kol
7. Catatan Sudah ada buku Profil Proyek Bidang Usaha ini (Profil Proyek Bidang Usaha Unggulan)
Data-data yang bersumber dari Pemda Sumatera Barat di atas, dapat diketahui:
Data-data terkesan kurang akurat. Tidak dijelaskan solusi peningkatan
lahan, bibit, panen dan pangsa pasar yang jelas. Belum memakai teknologi
maju. Peningkatan hasil panen dan pencapaian harga yang tinggi dengan
mutu terjaga sangat memungkinkan kenaikan upah buruh dari rata-rata Rp.
880.000,- per bulan menjadi Rp. 1.500.000,- per bulan setiap buruh yang
bekerja di sektor ini. Kenaikan upah buruh sekitar 73%, maka peningkatan
jumlah panen perlu dipicu dengan menerapkan penambahan lahan, teknologi
pengolahan produksi serta pemasaran.
Penulis : Yefri Wangsa



